Pesona Kota Palu, Sulawesi Tengah

Setahun lebih blog ini tak pernah saya tengok.  Kesibukan dan rasa malas yang tidak bisa saya kalahkan membuat rasa rindu akan menulis selalu saja saya abaikan.  Namun hari ini, keinginan untuk kembali menulis tiba-tiba saja muncul.  Banyak sebenarnya kisah yang ingin saya bagi.  Dalam setahun ini saya mengalami banyak kejadian yang benar-banar membuat hidup saya semakin bersyukur atas apa yang saya punya.

Setelah setahun vakum, saya ingin berbagi tentang pengalaman saya ketika berada di kota Palu.  Mungkin ada teman-teman yang ingin berencana kesana dalam waktu dekat ini.  Semoga tulisan ini bisa menjadi referensi.

Indonesia itu sangat kaya.   Saya harus akui bahwa keindahan alam, budaya, tradisi dan juga bahasa di Indonesia memang tidak ada duanya.  Dari ujung barat hingga ujung timur memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri.  Kali ini, saya berkesempatan menginjakan kaki di tanah Sulawesi tepatnya di kota Palu, Sulawesi Tengah.  Sebenarnya kunjungan saya ke Palu ini dalam rangka dinas dari kantor, tapi toh tak ada salahnya sekalian menikmati keindahan kota ini.

Palu adalah kota yang unik.  Letaknya berada di teluk, sehingga kota ini dikelilingi dengan pegunungan dan laut disekitarnya.  Sepanjang mata memandang,  maka kita bisa melihat pegunungan dan laut secara bersamaan di kota ini.   Sebelum datang ke kota ini, saya sempat khawatir akan keamanan kota ini yang konon katanya tidak kondusif dan sering terjadi keributan.  Tapi setelah sampai, apa yang saya bayangkan tidak seperti yang saya dengar selama ini.

1Masyarakat di kota ini, hidup dengan rukun dan bertoleransi cukup baik.  Warga muslim dan non muslim dapat hidup secara berdampingan serta saling menghormati.  Pertama kali menginjakan kaki dikota ini, saya langsung terpesona dengan keindahan alam kota ini.  Hamparan laut yang berwarna biru sudah menyambut kedatangan saya serta barisan pegunungan tampak seperti perisai yang memagari kota ini.

Hal yang pasti tersuguh dikota ini adalah lautnya.  Laut di Indonesia timur memang jawara.  Degradasi warnanya membuat saya  berdecak kagum atas keindahan pesona sang pencipta.

Pantai Talise adalah destinasi wajib yang harus dikunjungi karena lokasinya yang tepat berada di jantung kota Palu.  Pantainya landai dan ombak yang tidak terlalu besar membuat pantai Talise menjadi wisata rakyat yang mudah dijangkau.  Dipantai Talise terdapat Anjungan Nusantara yang merupakan spot terbaik untuk berfoto. Dipantai ini akan kita temui banyak pedagang yang berjualan, walaupun demikian, kebersihan disekitar pantai tetap terjaga.  Jika hari minggu, maka akan banyak komunitas yang berkumpul disana dan kalau beruntung maka kita bisa melihat lomba pacuan kuda di pantai ini.

Dari pantai talise, kita juga bisa melihat landmark nya kota Palu yaitu Jembatan Ponulele atau yang lebih dikenal dengan jembatan Kuning.  Jembatan ini menghubungkan Palu Barat dan Palu Timur.  Konon katanya jembatan ini adalah jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga didunia setelah Japang dan Perancis.  Disekitaran pantai Talise juga terdapat jembatan merah yang terbuat dari kayu.  Saat saya kesana, jembatan ini sedang dalam proses pengecatan ulang.  Warnanya sudah tidak merah lagi tapi sudah berwarna warni seperti pelangi.

29

Tak jauh dari Jembatan kuning, kita bisa menjumpai salah satu masjid yang cukup unik yaitu masjid apung.  Letak masjid ini yang agak menjorok ke laut membuatnya seolah-olah terapung.  Masjidnya tidak terlalu besar, namun memiliki desain interior yang menarik.  Jika kita masuk kedalamnya maka kita akan merasakan hembusan angin laut yang cukup kencang.

658

Bergeser sedikit dari kota Palu, tepatnya di Donggala.  Kita bisa menjumpai banyak tempat wisata.  Dan Pusat laut adalah destinasi yang wajib untuk dikunjungi.  Pusat laut adalah cekungan berupa lingkaran besar yang letaknya cukup jauh dari bibir pantai.  Namun air yang ada disana berasal dari laut yang berada disekitarnya.  Masyarakat disana percaya bahwa terdapat lubang yang menghubungkan antara pusat laut dengan laut yang berada disekitarnya.  Air yang ada di pusta laut sangat jernih dan hijau.  Buat yang suka memacu andrenalin, melompat ke pusat laut akan memberikan tantangan tersendiri.  Dipusat laut ini, banyak anak-anak kecil yang berenang. Mereka juga pandai menyelam, terkadang pengunjung melemparkan uang koin kedalam pusat laut lalu anak-anak itu berebut untuk mengambilnya.  Pengunjung juga dapat berenang dengan bebas di pusat laut.

3

11

Tak lengkap rasanya jika berkunjung kesuatu daerah tanpa menikmati kuliner yang khas dari daerah tersebut.  Kaledo adalah makanan khas Sulawesi Tengah yang wajib dicoba jika berkunjung kesana.  Kaledo merupakan singkatan dari kaki lembu donggala.  Makanan ini sejenis soup kaki.  Makanan ini biasa dimakan dengan singkong rebus.

10

Makanan lain yang wajib dicoba ketika berada di Palu adalah dange.  Dange adalah sejenis kue tradisional yang terbuat dari sagu yang dipanggang pada wajan kecil lalu diberi gula merah atau daging ikan.  Rasanya enak dan gurih.  Saat sore hari akan banyak kita jumpai penjual dange yang menjajakan dagangannya di dekat masjid terapung.

Demikianlah catatan perjalanan saya selama berada di kota palu. Masih banyak tempat-tempat eksotis lainnya yang belum sempat saya kunjungi.  Palu menyimpan sejuta pesona pariwisata yang masih belum terjamah.  Semoga saya bisa kesana lagi dilain waktu.  See you Palu….

7

Terusir – Hamka

Siapa yang tidak kenal dengan HAMKA, seorang sastrawan besar yang pernah ada dan hampir seluruh karyanya menempati kasta tertinggi kesastraan di Indonesia.  Salah satu karyanya adalah novel berjudul Terusir.  Novel ini memang tidak seterkenal novel karangan sang Buya lainnya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli ataupun Dibawah Lindungan Ka’bah.  Namun novel ini mampu menyuguhkan kisah perjalanan cinta yang dibumbui dengan fitnah, pengorbanan, permusuhan dan air mata yang diracik dengan adat minang yang begitu kental oleh sang Buya.

terusirDialah Mariah, seorang perempuan biasa yang menikah dengan Azhar, lelaki yang berasal dari keluarga terpandang.  Perbedaan status diantara keduanya membuat mertua dan iparnya melakukan segala daya upaya untuk memisahkan mereka.

Sampai pada suatu ketika, Mariah difitnah telah berlaku serong.  Azhar yang panas hati tanpa mendengarkan penjelasan apapun dari Mariah, mengusir perempuan malang itu pada malam itu juga.  Dengan cacian dan makian dari suaminya Mariah pergi tanpa membawa apa-apa termasuk putranya yang masih kecil bernama Sofyan. Perempuan malang itu tak tahu harus kemana karena ia tidak memiliki sanak famili lagi.  Satu tempat yang ditujunya pada malam itu adalah rumah pak cik nya dikota medan.  Sementara waktu ia akan menumpang disana.  Itupun tak berlangsung lama karena istri pak cik nya tidak menyukainya.  Terusir kembalilah Mariah dari sana.

Berkali-kali Mariah menulis surat untuk Azhar, namun tidak pernah dibalas.  Selang beberapa waktu, Azhar dinasehati oleh sahabat karibnya yaitu Haji Abdul Halim yang baru pulang dari Mekah.  Tergeraklahnya harinya untuk mencari Mariah.  Namun sayang, Mariah yang telah menjadi Babu (pembantu rumah tangga) dikeluarga Van Oost, telah dibawa ke Jakarta oleh keluarga itu.

Tak lama berselang, majikan Mariah memutuskan untuk kembali ke Eropa tanpa membawa Mariah dan pembantu lainnya.  Disanalah penderitaan Mariah akan kembali bermula.  Selepas ditinggal majikannya, Mariah menikah dengan  Yasin, yang sama-sama bekerja dikeluarga Van Oost.  Ternyata Yasin menikahi Mariah hanya untuk menghabisi harta yang dimiliki Mariah.  Setelah harta tersebut habis untuk berjudi dan bermain perempuan, Mariah dicampakan begitu saja.  Kesulitan ekonomi yang dialaminya membuat Mariah gelap mata.  Ia tidak memiliki pilihan lain, sampai akhirnya ia masuk kedalam lembah nista pelacuran demi menyambung hidup.  “Neng Sitti” itulah nama lacurnya sekarang.

Azhar yang merasa menyesal, tidak menikah lagi sebagai bentuk penyesalannya terhadap Mariah.  Ia membesarkan putranya hingga menjadi orang orang yang berhasil dan menjadi seorang master (pengacara) di Jakarta.  Sampailah hal tersebut ketelinga Mariah, bahwa anaknya sekarang telah menjadi orang besar.

Sofyan yang sekarang telah menjadi seorang master, memadu kasih dengan Emi, seorang gadis priangan.  Namun cinta keduanya terhalang oleh Wirja, yang menyimpan dendam ke Sofyan karena lamarannya ditolak oleh Emi.  Dengan segala daya dan fitnah yang keji, Wirja berusaha untuk menjatuhkan Sofyan termasuk dengan bantuan “gadis malam” bernama Flora, namun rencana tersebut tidak berhasil.

Dirumah pelacuran, Wirja marah terhadap Flora atas ketidak berhasilannya menjatuhkan Sofyan.  Disanalah Neng Sitti mendengar percakapan keduanya.  Neng Sitti marah terhadap Wirja yang mencoba menjatuhkan Sofyan.  Wirja akhirnya mengetahui bahwa Neng Sitti adalah ibu kandung dari Sofyan, dan ia akan membocorkan hal tersebut.  Percek-cokan terjadi diantara Neng Sitti dan Wirja dan berakhir dengan terbunuhnya Wirja oleh Neng Sitti yang tidak ingin Sofyan hancur karena mengetahui bahwa ia adalah ibu kandungnya.  Neng Sitti akhirnya dipenjara karena kasus pembunuhan tersebut.

Cerita semakin klimaks saat Sofyan ditunjuk oleh Mahkamah Agung untuk membela Neng Sitti.  Dihari dimana Neng Sitti diadili, tiga tokoh utama dalam novel ini dipertemukan.  Hamka begitu pandai meramu pertemuan mereka secara dramatis.

Azhar yang akhirnya mengetahui bahwa yang dibela oleh anaknya adalah Mariah, istri yang dahulu diusirnya merasa kaget.  Ia tidak memberitahukan hal tersebut kepada Sofyan.  Ketika Sofyan meminta restu kepada Ayahnya untuk membela perempuan itu, dengan gemetar ia berkata :

Belalah perempuan itu dengan sehabis-habis dayamu, tumpahkanlah segenap kekuatan pikiran dan kepandaianmu dalam perkara ini”. (halamanan 98).  Dibagian inilah Hamka mampu membangun suasana sehingga pembaca terbawa alur cerita yang dramatis.

Apakah Sofyan berhasil membebaskan Neng Sitti dari jerat hukum? Dan apakah ia mengetahui bahwa perempuan malang yang dibelanya tersebut adalah ibu kandungnya sendiri? Lalu apakah Mariah memaafkan Azhar? Dan berakhir seperti apakah kisah Mariah. Semuanya bisa anda baca pada novel Terusir.  Yang jelas siapkan tissue karena akhir cerita yang sangat mengharu biru dan menyentuh.

Hamka memang begitu piawai memainkan emosi pembaca pada novel ini.  Penggunaan gaya bahasa melayu pada novel ini mampu menguatkan rasa “Sumatera” yang dibangun oleh sang maestro sastra ini.  Sajian latar ditahun 1930-an yang erat dengan masa penjajahan membuat novel ini semakin menarik untuk dibaca.

B R O M O (Menjemput Mimpi Yang Tertunda)

Agak telat sebenarnya postingan saya kali ini karena perjalanan saya ke Bromo ini dilakukan bulan Juni 2014 lalu. Beberapa kali saya coba untuk menuliskan perjalanan saya ke Bromo, tapi rasanya tak ada kata yang bisa merepresentasikan keindahan Bromo dalam bentuk sebuah tulisan. Terlalu banyak keindahan yang tidak bisa saya jabarkan. Bromo memang menjadi destinasi utama yang wajib saya kunjungi. Saya sudah berencana mengunjunginya dari beberapa tahun sebelumnya. Dan Alhamdulillah ditahun 2014 bisa mengunjunginya.

Perjalanan ke Bromo memang bukan hanya sekedar perjalanan wisata, tapi juga begitu banyak hal yang saya temui selama melakukan perjalanan ini.   Dengan menggunakan kereta api Matarmaja, saya menuju kota Malang dari Jakarta. Jangan bayangkan kereta api yang nyaman dengan tempat duduk yang empuk beserta AC yang dingin. Kondisi kereta api Matarmaja merupakan kereta api ekonomi dengan fasilitas terbatas dan jika ada kereta lain yang akan lewat, kereta ini terpaksa harus menunggu sampai kereta api lainnya itu lewat dahulu,oleh karena itu perjalanan dari Jakarta ke Malang ditempuh hampir memakan waktu 12-13 jam perjalanan. Jadi bisa dibayangkan lamanya perjalanan yang harus ditempuh. Namun disanalah hal yang menarik, saya berjumpa dengan berbagai teman dengan beragam karakter. Bertemu dengan orang yang ternyata berasal dari daerah yang sama dengan saya, walau mereka sudah lama tinggal di Jakarta, namun masih cukup fasih menggunakan bahasa daerah.

Lalu ketika saya berdiri dipintu gerbong, kembali saya bertemu dengan teman baru dan ternyata kami memiliki kesamaan, sama-sama penyuka senja. Senang rasanya bisa mengenal orang dengan beragam karakter dan pribadi.   Selalu banyak hal yang bisa saya pelajari dari setiap orang yang saya temui.

Sampai di kota Malang, saya sudah bisa merasakan bagaimana menyenangkan perjalanan menuju Bromo. Menikmati keindahan kota Malang lalu dilanjutkan menuju desa Gubuk klakah sebelum akhirnya menuju pada perjalanan yang sebenarnya, yaitu Bromo, tempat dimana mimpi dan asa saya titipkan disana.

Dini hari, dengan menggunakan jeep, saya dan teman-teman yang baru saya kenal menuju ke Bromo. Bukan perkara yang mudah dalam menaklukan dinginnya udara malam yang menusuk tubuh, kamipun harus mendaki dengan berjalan kaki untuk mencapai spot yang tepat untuk melihat Bromo dikala pagi. Ah Bromo memang memiliki daya pikat yang begitu kuat, keindahannya memang tidak bisa dengan mudah untuk dilukiskan dengan aksara. Dan ini adalah setitik keindahan Bromo yang berhasil saya abadikan.

Stasiun Kota Malang

Stasiun Kota Malang

Balai Kota Malang

Balai Kota Malang

Desa Gubuk Klakah, salah satu Desa Wisata di Malang. suasana yang dan keramahan penduduknya adalah salah satu daya pikat desa ini

Desa Gubuk Klakah, salah satu Desa Wisata di Malang. suasana yang dan keramahan penduduknya adalah salah satu daya pikat desa ini

Menyambut Fajar di puncak Bromo

Menyambut Fajar di puncak Bromo

Bromo yang masih berselimut Kabut

Bromo yang masih berselimut Kabut

Kegagahan dan keagungan Bromo

Kegagahan dan keagungan Bromo

Bromo

Bromo

15Pernah ku gantungkan asaku disana, pernah ku letakan harapku padanya. Dan sekarang aku datang untuk menjemput mimpiku yang tertunda. Tapi pasti suatu saat aku akan kembali bukan untuk sebuah mimpi tapi untuk melepas rindu.

Trip ke Bukittinggi, Sumatera Barat

Ranah minang memang selalu menyimpan pesonanya. Tidak hanya kaya akan budaya dan kulinernya yang sudah terkenal, tapi juga menyimpan berjuta pesona yang tidak akan habis dijelajah hanya dalam waktu satu atau dua hari. Setiap daerah di ranah minang selalu menyimpan keindahan sendiri untuk dinikmati.

Kali ini kaki saya melangkah kesalah satu kota diranah minang, yaitu Bukittinggi. Perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan bagi saya karena trip ke Bukittinggi ini saya lakukan sendirian. Ini adalah trip pertama saya seorang diri tanpa menggunakan jasa travel agent. Awalnya saya ingin mengunjungi kota Padang dan Bukittinggi namun karena keterbatasan waktu akhirnya saya hanya mengunjungi kota Bukittinggi.

Kota Bukittinggi sendiri merupakan kota yang pernah menjadi ibukota negara kita. Kota yang terletak didataran tinggi ini berudara sangat sejuk dan jika malam hari, udara dingin mulai terasa. Perjalanan ke Bukittinggi sebenarnya perjalanan yang tidak disengaja. Awal bulan Oktober kemarin saya mendapat tugas pemeriksaan di kota Muara Bungo, Jambi. Muara Bungo sendiri merupakan kota yang terletak di ujung provinsi Jambi dan hanya perlu waktu beberapa jam saja untuk sampai ke provinsi Sumatera Barat dari Muara Bungo. Oleh karena itu, dengan modal nekat saya berani diri untuk melakukan perjalanan singkat ke Bukittinggi ini.

Perjalanan dari Muara Bungo ke Bukittinggi hanya menempuh waktu enam sampai tujuh jam perjalanan darat. Dengan menggunakan travel seharga Rp.130.000, saya sudah bisa menuju Bukittinggi. Perjalanan menuju Bukittinggi melewati kota Solok, tanah datar dan menyusuri sepanjang tepian Danau Singkarak. Ranah minang memang dianugerahi keindahan alam yang tiada duanya. Sepanjang perjalanan mata disuguhi dengan keindahan alam yang memanjakan mata. Dan tidak bosan-bosannya mata saya berdecak kagum atas lukisan alam yang terlukis dalam keindahan kanvas semesta. Keindahan pegunungan berpadu dengan hamparan hijaunya persawahan, ditambah lagi dengan aliran sungai dengan bebatuannya. Keindahan tersebut masih ditambah dengan rindangnya pohon kelapa dan rumah-rumah penduduk pedesaan yang sederhana dan bahkan beberapa rumah gadang tampak menghiasi perkampungan yang saya lewati. Ini sungguh benar-benar suasana perkampungan yang ada dalam pikiran dan imajinasi saya akan makna kampung yang sesungguhnya. Sungguh beruntung sekali mereka yang tinggal diperkampungan tersebut.

Memasuki kota Bukittinggi, udara dingin sudah mulai terasa. Saya sampai di Bukittinggi sekitar pukul empat sore dan langsung menuju penginapan yang sudah saya booking sebelumnya. Penginapan yang akan saya tempati berada di kampung cina dan berada dipusat kota Bukittinggi. Nama penginapan tersebut bernama Hello Guest House, saya mendapat referensi penginapan ini dari beberapa blog yang saya baca. Dengan harga yang relatif murah setiap kamarnya, yaitu 150 Ribu untuk kamar Double dan 120 Ribu untuk kamar single. Selain itu juga menyediakan kamar Dorm bagi yang ingin berbagi kamar dengan backpacker lainnya. Awalnya saya ingin merasakan sensasi berbagi kamar dengan alasan harga kamar yang lebih murah. Namun pemilik penginapan yang nama LING, menyarankan saya untuk memilih kamar single saja. Akhirnya saya mengikuti saran dari Ling tersebut. Dan ternyata sesampai dipenginapan kamar single sudah fullbooked, karena sudah melakukan konfirmasi via email dengan Ling sebelumnya, akhirnya ling memberikan saya kamar double dengan bed besar namun dengan harga kamar single. Oh ling,sungguh baik sekali. Untuk menuju ke Hello Guest House sendiri cukup mudah, berada di Kampung Cina, dekat dengan mesjid Nurul Haq dan tepat berada didepan Hotel Grand Kartini. Fasilitas kamar yang disediakan cukup nyaman, lengkap dengan air panas namun tidak tersedia pendingin ruangan karena memang dinginnya udara di Bukittinggi apalagi ketika malam hari.

Hello Guest House, Bukittinggi

Hello Guest House, Bukittinggi

kamar di Hello Guest House, Bukittinggi

kamar di Hello Guest House, Bukittinggi

20141017_170101Sesampai dipenginapan, setelah meletakan barang, ling langsung memberikan peta wisata kepada saya dan menjelaskan letak tempat wisata yang ada di Bukittinggi. Ternyata seluruh tempat wisata bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari penginapan tempat saya menginap. Karena sudah agak sore, saya memutuskan untuk melihat landmark dari kota Bukittinggi yaitu Jam Gadang. Sejarah dan dari mana jam ini berasal/dibuat mungkin sudah banyak yang tahu. Yang jelas jam yang hampir sama dengan Big Ben yang ada di London ini merupakan daya tarik bagi wisatawan untuk melihatnya. Sayang disekitar area jam gadang banyak pedagang kaki lima yang berjualan mulai dari jualan makanan, pakaian sampai dengan aksesoris. Hal ini membuat areal jam gadang tampak kumuh dan tidak menarik. Beberapa delman lengkap dengan kudanya juga tampak berjejer diseputaran areal jam gadang.

Sambil menikmati jam gadang disore itu, saya mencoba es cendol lengkok durian khas Bukittinggi. Esnya sama seperti es cendol biasanya, hanya saja cendolnya berwarna merah yang diberi nasi ketan dan bubuk yang menurut saya itu adalah kelapa parut yang di sangrai lalu ditambahkan dengan durian. Selain itu tak lengkap rasanya kalau tidak mencoba sate padang diranah minang. Lengkaplah makanan tersebut menutup sore saya.

Suasana Jam Gadang

Suasana Jam Gadang

Jam Gadang ketika Sore

Jam Gadang ketika Sore

Menjelang magrib saya kembali ke penginapan untuk bersih-bersih. Dengan air yang sedingin air es, saya pun nekat untuk mandi. Rupanya udara dingin membuat perut saya kembali keroncongan. Saya kembali keluar untuk berjalan-jalan pada malam itu dan kembali ke areal jam gadang. Rupanya areal ini semakin ramai ketika malam.   Sayapun mencoba bakso yang berada disekitar pasar atas. Rasa baksonya biasa saja menurut saya tapi tetap saya habiskan karena lapar. Hehhehhee

Jam Gadang Ketika malam

Jam Gadang Ketika malam

Arus modernisasi juga melanda kota Bukittinggi. Diareal jam gadang, selain ada pasar atas/pasar ateh juga terdapat plaza yang berdiri cukup besar. Selain itu beberapa restaurant cepat saji juga tampak berada disekitar areal jam gadang dengan menyewa ruko. Rintik hujan, turun pada malam itu, sayapun bergegas kembali kepenginapan untuk segera beristirahat.

Pagi-pagi sekali saya bangun, seperti biasa saya menjelajah jalanan di kota Bukittinggi yang masih berselimut kabut. Kembali lagi ke jam gadang lalu saya menyusuri lorong jalan di pasar ateh yang sebagian besar tokonya masih tutup. Pasar ateh sendiri seperti pasar tradisional pada umumnya. Terdiri dari kios-kios yang menjual pakai, aksesoris maupun oleh-oleh khas minang. Sayapun segera menuju ke pasar bawah melalui lorong pasar ateh dan melewati janjang ampek puluah.

Janjang ampek puluah adalah penghubung antara pasar ateh dan pasar bawah yang berupa tangga yang konon katanya berjumlah empat puluh.   Pasar bawah sendiri merupakan pasar tradisional yang menjual buah-buahan dan sayuran kalau pagi, biasanya pedagang berjualannya sampai ke bahu jalan. Puas menikmati transaksi jual-beli di pasar bawah, sayapun bergegas kembali kepenginapan untuk beres-beres sebelum melanjutkan untuk mengunjungi tempat lainnya. Oh yaa, di Bukittinggi sendiri, jangan pernah sungkan untuk bertanya jika tidak mengetahui arah jalan karena masyarakat di Bukittinggi terkenal akan keramahannya terhadap wisatawan. Jadi jangan pernah takut tertipu yaaa….

Suasana Bukittinggi ketika pagi

Suasana Bukittinggi ketika pagi

Sudut lain kota Bukittinggi

Sudut lain kota Bukittinggi

Ruko di Bukittinggi yang masih tutup

Ruko di Bukittinggi yang masih tutup

Janjang Ampek Puluah

Janjang Ampek Puluah

Gerbang Janjang Ampek Puluah

Gerbang Janjang Ampek Puluah

Kembali kepenginapan, saya langsung bergegas untuk segera bersih-bersih dan melanjutkan perjalanan. Jam setengah delapan saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menuju ke ngarai sianok yang terkenal itu. Tempat yang indah untuk melihat ngarai sianok adalah dari taman panorama. Diperjalan menuju taman panorama, saya mampir sebentar dipasar yang saya tidak tau namanya. Pasar itu berada diperempatan jalan. Saya mencari sarapan dulu, sebelum melanjutkan perjalanan. Mampir diwarung makan Nadia yang menyediakan beragam menu sarapan. Sayapun memilih menu Lontong pical. Lontong pical sendiri merupakan lontong yang diberi dengan mie kuning dan daun selada lalu disiram dengan saus kacang dan dimakan dengan kerupuk merah. Menurut saya sih hampir sama dengan ketoprak. Seporsi lontong pical seharga 9000 lengkap dengan gorengan sudah mampu memberikan saya tenaga ekstra pagi itu.

Saya melanjutkan langkah saya menuju taman panorama yang tidak berada begitu jauh dari tempat saya sarapan. Karena masih pagi dan baru saja buka, sehingga belum banyak pengunjung yang datang. Dengan tiket seharga lima ribu rupiah, pengunjung sudah bisa menikmati taman panorama. Dari taman panorama inilah kita bisa melihat ngarai sianok yang terkenal tersebut. Yang menurut saya menarik adalah, hamparan hijau sawah dan Ngarai Sianok tersebut berada ditengah kota. Bisa dibayangkan ada ngarai yang letaknya ditengah kota. Beberapa fasilitas tampak sedang dibangun di taman Panorama tersebut. Terdapat beberapa kios yang berjualan cinderamata di taman panorama tersebut. Selain banyak terdapat pohon-pohon besar yang terdapat di taman Panorama tersebut, terdapat juga monyet yang berkeliaran disana. Untuk lebih menikmati Ngarai sianok sayapun naik keatas sebuah menara yang cukup tinggi. Dari atas menara tampak terlihat hamparan hijaunya pemandangan. Sayang akibat adanya pembakaran hutan yang melanda sebagian besar wilayah di Sumatera, menyababkan kota bukit tinggi terkena efek dari kabut asap, sehingga pemandangan yang ada tampak tidak sempurna.

Ngarai Sianok, sayang banyak kabut asapnya

Ngarai Sianok, sayang banyak kabut asapnya

20141018_083116Puas menikmati keindangan ngarai sianok, saya berjalan menuju “The Great Wall of Koto Gadang” yang tidak berada jauh dari Ngarai Sianok. Antara Ngarai Sianok dan Great Wall, terdapat Goa jepang namun karena masih terlalu pagi, objek wisata ini belum buka sehingga saya lewatkan saja. Perjalanan menuju The Great Wall Of Koto Gadang melewati jalanan yang curam. Namun mata disuguhi dengan hamparan sawah dan bukit yang tampak hijau. Ketika akan menaiki The Great Wall, saya melewati jembatan gantung berwarna merah. Konon katanya jika melewati jembatan ini, hanya bisa dilalui maksimal oleh 10 orang. Pendakian di Great Wall sungguh menguras tenaga karena pengunjung harus mendaki anak tangga yang cukup curam. Namun sepanjang pendakian mata akan disuguhi dengan pesona alam ranah minang yang tidak pernah bosan untuk dipandang. Sayang sekali objek wisata ini tidak luput dari tangan-tangan usil yang mencoret-coret dinding tembok.

Gerbang The Great Wall of Koto Gadang

Gerbang The Great Wall of Koto Gadang

Hamparan hijau sepanjang jalan menuju The Great wall

Hamparan hijau sepanjang jalan menuju The Great wall

20141018_084646

Jembatan menuju The Great Wall

Jembatan menuju The Great Wall

Ini dia,,, The Great wall Of Koto Gadang

Ini dia,,, The Great wall Of Koto Gadang

Selfie dgn bantuan kotak sumbangan... :p

Selfie dgn bantuan kotak sumbangan… :p

Setelah dengan penuh perjuangan, akhirnya saya sampai di Koto Gadang yang merupakan penghujung dari The Great Wall. Sayapun menyusuri jalan setapak menuju Koto Gadang yang merupakan perkampungan yang dikenal dengan kerajinan peraknya. Yang menarik adalah masih banyak rumah-rumah dengan arsitektur kuno disini. Sampai di Koto Gadang walaupun masih jam 10 pagi, saya langsung menuju ke salah satu rumah makan yang menyediakan itiak lado hijau. Sebenarnya saya bukan pecinta daging bebek. Malah saya selalu menghindari untuk memakan daging bebek. Namun karena menu ini sangat terkenal dan wajib untuk dicoba jika ke Bukittinggi, oleh karena itu sayapun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk merasakan gulai tersebut.

Dan diluar prediksi saya, ternyata daging bebeknya tidak amis seperti yang saya bayangkan. Ini mungkin karena bebek yang dipilih adalah bebek yang masih muda, selain itu bumbu rempah yang membalut daging bebek tersebut cukup banyak sehingga mampu menetralisirkan bau amisnya. Tanpa banyak bicara, seporsi gulai itiak lado hijau tersebut ludes dan hanya tinggal tersisa tulangnya saja.

Itiak Lado Hijau,,, Lemaak Niaan....

Itiak Lado Hijau,,, Lemaak Niaan….

Setelah perut kenyang, saya melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan di Koto Gadang. Akhirnya sampai pada satu rumah gadang yang cukup besar dan merupakan balai adat dari daerah setempat lalu saya terdiam sejenak.   Melihat indah pemandangan di Koto Gadang. Keindahan rumah penduduk yang terkesan kuno dan beberapa rumah Gadang dibalut dengan keramahan penduduk setempat yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai budaya. Kecantikan tersebut dibalut lagi dengan keindahan alam yang luar biasa indahnya. Pegunungan, persawahan dan keasrian alam dengan udara yang sejuk merupakan tempat tinggal idaman yang didambakan setiap orang.  Cukup lama saya terdiam sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali kepenginapan. Karena agak lelah, saya memutuskan untuk naik angkot menuju kembali ke Bukittinggi. Lagi-lagi sepanjang perjalanan mata saya tidak habis-habisnya dimanjakan oleh keindahan alam ranah minang.

Beauty of Koto Gadang

Beauty of Koto Gadang

Rumah Gadang

Rumah Gadang

Rumah gadang of Koto Gadang

Rumah gadang of Koto Gadang

Sampai dipenginapan, saya istirahat sebentar sebelum check out. Karena akan kembali pada sore hari saya menitipkan barang kepada Ling. Saya masih ingin berjalan-jalan menikmati indahnya pesona kota Bukittinggi. Karena saat itu sudah memasuki waktu sholat Dzuhur, sayapun sholat dahulu di masjid yang berada didekat penginapan. Nuansa islami masih cukup terasa kental di kota ini. Ketika adzan berkumandang, pria dan wanita berbondong-bondong menuju masjid sehingga masjid dipenuhi oleh orang yang ingin sholat berjamaah.

Menghabiskan waktu sore ini, saya mengunjungi rumah Bung Hatta. Rumah yang merupakan jejak sejarah dari bapak proklamator ini masih terawat dengan baik. Seluruh barang yang pernah digunakan oleh Bung Hatta masih dengan sangat rapi terjaga dirumah tersebut. Seorang ibu yang merupakan penjaga dari rumah tersebut menjelaskan sejarah dari setiap sudut rumah tersebut. Setelah selesai, saya mengisi buku tamu dan tidak dikenakan harga untuk mengunjungi rumah Bung Hatta ini tapi pengunjung diminta sumbangan seikhlasnya untuk biaya perawatan rumah tersebut.

Ruang Tamu Rumah Bung Hatta

Ruang Tamu Rumah Bung Hatta

Sudut lain Rumah Bung Hatta

Sudut lain Rumah Bung Hatta

Tak terasa, sorepun menjelang. Saya kembali ke penginapan untuk mengambil tas yang saya titipkan. Selang berapa lama, travel yang membawa saya pulangpun datang menjemput. Sebelum pulang saya mengucapkan terima kasih kepada Ling yang sudah baik membantu saya selama berada di Kota Bukittinggi. Semoga kelak bisa kembali ke Kota ini…

Pengalaman Menjadi Pengajar di Kelas Inspirasi Lampung.

SDN 1 Rajabasa

SDN 1 Rajabasa

“Luar Biasa…” itu mungkin adalah kata yang bisa mewakili perasaan saya ketika menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Lampung. Buat yang masih belum tau apa itu Kelas Inspirasi,berikut saya jelaskan sedikit tentang Kelas Inspirasi. Kelas inspirasi merupakan salah satu gerakan/program dari Indonesia Mengajar. Gerakan ini dilakukan secara sukarela oleh para professional dari berbagai latar belakang profesi dimana para professional tersebut akan mengajar selama sehari pada SD yang sudah ditentukan oleh panitia. SD yang ditentukan oleh panitia biasanya adalah SD dengan fasilitas terbatas atau SD menengah kebawah. Relawan pengajar diminta mengajarkan dan mengenalkan profesi mereka kepada anak- anak SD tersebut. Mengapa mengenalkan profesi kepada anak-anak? Hal ini untuk membuka paradigma anak-anak tersebut bahwa selain menjadi dokter atau polisi masih banyak profesi lain yang menyenangkan diluar sana dan profesi tersebut bisa mereka jadikan pilihan kelak ketika mereka dewasa nanti. Selain itu nilai lain yang ingin ditanamkan melalui kelas inspirasi adalah semangat pantang menyerah pada diri anak-anak tersebut. Seberapa besarpun cita-cita mereka, mau jadi apapun mereka nanti, jangan pernah padam semangatnya dalam menggapai semua yang mereka impikan.

Ketika mendaftar via online pada website Kelas Inspirasi, jujur saya tidak berharap banyak untuk diterima sebagai relawan karena saya sudah pernah mendaftar pada kota lain namun tidak lolos seleksi. Dan ketika pada hari pengumuman saya melihat ternyata nama saya tercatat bersama relawan lainnya, jujur ada rasa tidak percaya dan sekaligus senang. Sudah terbayang bagaimana akan menghadapi anak-anak SD tersebut.

Ketika hari briefing, tepatnya dua minggu sebelum hari inspirasi, seluruh relawan dikumpulkan disalah satu studio foto di Bandar Lampung. Saat itu, saya masuk dalam kelompok 5 untuk mengajar di SDN 1 Rajabasa. Pada hari briefing tersebut, hanya 4 relawawan kelompok 5 yang datang. Dan setelah dilakukan pengundian ternyata saya dipilih sebagai ketua kelompok. Agak berat memang karena saya ada jadwal pemeriksaan pada awal bulan Oktober sampai dengan pertengahan bulan. Saya justru takut tidak bisa mengakomodir keinginan dari teman-teman relawan lainnya yang memang belum bertemu secara langsung. Untung fasilitator saya dari panitia Kelas Inspirasi Lampung, dengan sigap membantu sampai dengan hari inspirasi. Makasih banyak mas Rama alias mas Madhan yang juga temen deketnya mas Wawan…. :p

Dengan bantuan mas Rama, seluruh relawan dikumpulkan dalam satu group WA sebagai media kami untuk saling berinteraksi. Dari group WA tersebut kami mulai saling add dan follow pada media social. Ah saya sungguh beruntung bisa berada di kelompok 5 bersama orang-orang hebat. Ada mas Wicak yang seorang seniman (jujur kagum banget ama mas yang satu ini). Mba Novi yang seorang redatur dan merupakan penggila Kelas Inspirasi karena udah banyak banget ikutan jadi relawan di Kelas Inspirasi, Tita yang seorang banker dan rela jauh-jauh datang ke Lampung hanya untuk berpartisipasi di Kelas Inspirasi, ada juga Chika yang seorang perawat dan sedang berjuang menyelesaikan study S2nya (lanjutkan perjuanganmu nak,, :p) , Mas Erik yang kerjanya dibalai lelang Negara tapi jago banget dalam hal foto memfoto, Rio yang seorang fotographer dan menjadi idola serta dipanggil Arjuna oleh anak-anak SD. Efflin yang bekerja di oil and gas company dan selalu dikerumuni anak-anak karena miniature POM bensin yang dibawanya sebagai media untuk memperkenalkan pekerjaannya dan banyak anak-anak yang berantem yaa bu karena miniature tersebut. Hehhehhe….. mas Titot sang videographer, Intan sang MC yang selalu ceria, mas wawan yang selalu berduaan ama mas rama. Cieeee cieee… Dan relawan lainnya. I adore all of you guys.

Persiapan sehari sebelum hari Inspirasi bersama seluruh Relawan

Persiapan sehari sebelum hari Inspirasi bersama seluruh Relawan

Sehari sebelum hari inspirasi, kami para relawan bertemu untuk mematangkan semua hal guna menyukseskan berlangsungnya kegiatan esok hari. Sayang dua orang relawan yaitu Dita dan Pak Joko mengundurkan diri sebagai relawan karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Setelah bongkar pasang jadwal mengajar untuk masing-masing relawan pengajar, kami mempersiapkan seluruh pernak pernik untuk memeriahkan acara esok hari. Adapun yang kami siapkan mulai dari name tag untuk anak-anak yang kami buat seperti topi ulang tahun, latihan ice breaking dan flashmop serta persiapan untuk membuat pohon cita-cita. Dimana nanti anak-anak akan menuliskan nama dan cita-citanya pada daun yang terbuat dari kertas sticker dan akan di tempelkan pada pohon cita-cita tersebut. Ah untung ada mba Novi dengan pengalamannya yang sering mengikuti kelas inspirasi, semua persiapan berjalan lancar.

Akhirnya Hari Inspirasi itu tiba juga, ini merupakan pengalaman pertama bagi saya untuk mengajar dan dengan persiapan yang ala kadarnya karena jujur saya masih bingung bagaimana menjelaskan pekerjaan saya sebagai auditor kepada anak-anak SD tersebut. Saya mendapatkan jatah mengajar sebanyak tiga kali yaitu dikelas empat, lalu kelas enam dan kelas tiga. Oh ya sebagai gambaran, SDN 1 Rajabasa sendiri hanya terdiri dari enam ruang kelas dengan jumlah siswa kurang lebih 200 orang.

Setelah saya dan relawan lainnya memperkenalkan diri di seluruh hadapan anak-anak SD di lapangan, kamipun mengadakan game sebelum mulai mengajar dikelas. Dan terjadi banyak kehebohan ketika game dimainkan. Mulai dari anak-anak yang saling dorong-dorongan sampai ada yang menangis karena berantem. Melihat tingkah dan polah anak-anak tersebut saya tidak bisa membayangkan bagaimana nanti didalam kelas. Hehehhee.

Sebelum memperkenalkan diri foto dulu : left to right : Efflin, Mba Novi, Saya, Chika, Tita, Mas Erik dan Mas Bayu

Sebelum memperkenalkan diri foto dulu : left to right : Efflin, Mba Novi, Saya, Chika, Tita, Mas Erik dan Mas Bayu

Upacara sebelum proses belajar mengajar

Upacara sebelum proses belajar mengajar

Jam pertama saya mendapat jatah mengajar di kelas 4. Dengan semangat saya menyapa anak-anak ketika memasuki ruang kelas. Saya percaya bahwa dengan semangat dan keceriaan bisa memberikan energy positif dan merupakan awal yang baik untuk memulai proses mengajar. Pada menit-menit awal saya sangat gugup dalam menjelaskan profesi saya kepada anak-anak. Semangat mereka dalam menyimak dan memberikan interaksi membuat adrenalin saya terpacu. Dan luar biasa sambutan dari anak-anak tersebut. Dengan analogi yang bisa mereka cerna saya mencoba untuk menjelaskan profesi saya. Sayapun mengaitkan profesi saya sebagai auditor dengan Korupsi. Ada nilai kejujuran yang ingin saya tanamkan pada anak-anak tersebut. Di akhir sesi saya meminta beberapa anak untuk maju dan menceritakan kepada teman-temannya mengenai cita-cita mereka. Hal yang menyentuh perasaan saya adalah ketika seorang anak perempuan dengan pipi chubby dan kerudung putihnya maju dan menceritakan cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter dengan mata berkaca-kaca. Tak lama kemudian dia menangis lalu disekanya air mata tersebut dengan kerudung putihnya. Semoga cita-citamu tercapai yaa nak…. L

IMG-20141025-WA0014

Murid kelas empat

Murid kelas empat

Selanjutnya saya mengajar dikelas 6, dengan metode yang sama saya mencoba untuk menjelaskan profesi saya kepada anak-anak dikelas enam. Interaksinya lebih menarik karena anak-anak dikelas enam sudah bisa diajak untuk berfikir secara kritis dan pola fikir mereka berada pada masa transisi menuju fase remaja. Walau saya agak sedikit kewalahan menghadapi tingkah beberapa anak yang mencari perhatian lebih. Tapi mereka anak-anak yang baik dan menyenangkan. Nilai-nilai kerja keras, pantang menyerah dan menghormati orang tua serta guru, saya tekankan pada beberapa bagian ketika saya menjelaskan atau menganalogikan sesuatu.

Berfoto bersama siswa kelas enam bersama relawan lainnya. Rio, Tita, mba Basa, Saya, Chika dan Mas Wicak

Berfoto bersama siswa kelas enam bersama relawan lainnya. Rio, Tita, mba Basa, Saya, Chika dan Mas Wicak

Kelas terakhir yang saya ajar adalah kelas tiga. Awalnya saya mengira tidak akan menemukan kesulitan dalam mengajar dikelas ini. Tapi ternyata saya salah. Justru ini adalah kelas dimana saya harus menguras emosi. Hal ini mungkin karena seharusnya jam mengajar anak kelas tiga sudah selesai. Tapi dari pihak panitia dan sekolah menambahkan jam mengajar lagi sehingga disamakan dengan kelas empat hingga kelas enam. Beberapa anak sudah tidak konsentrasi lagi karena sudah meminta untuk pulang. Sedangkan yang lainnya sibuk bermain dan mengganggu temannya yang lain. Oh yaa yang paling saya ingat dikelas ini adalah seorang anak yang bercita-cita ingin menjadi Batman. Hehhehhehe…. Untuk menguasai kelas ini, saya terpaksa mengeluarkan smartphone saya dan menunjukan foto-foto beberapa daerah yang pernah saya kunjungi. Dan ini ternyata efektif untuk menarik perhatian mereka. Tapi namanya anak-anak sekarang yaa suka bgt selfie.   Beberapa dari mereka meminta untuk difoto dan selfie bareng. Hahahhhaaa.   Menutup kelas ini saya membagikan kertas sticker yang dibentuk daun. Saya meminta mereka untuk menuliskan nama dan cita-citanya lalu meminta mereka untuk menempelkan pada pohon cita-cita yang sudah dipersiapkan.

Selfie bersama siswa kelas tiga

Selfie bersama siswa kelas tiga

IMG-20141023-WA0003

Pohon cita-cita

Pohon cita-cita

20141029_071411Saya percaya dan yakin bahwa semangat anak-anak tersebut seperti lilin. Tugas semua orang adalah untuk perduli dan menjaga agar nyala semangat tersebut tidak pernah padam. Jangan sampai semangat mereka untuk meraih cita-citanya, semangat mereka untuk mencapai pendidikan setinggi mungkin harus kandas dan padam. Pendidikan adalah investasi agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Karena kepada merekalah kelak bangsa ini akan dititipkan. Jangan pernah berhenti meraih asamu anak-anak Indonesia.

Tanda Tanya ( ? )

Dunia terus berputar, waktu tak dapat untuk dihentikan. Seiring berjalannya waktu, manusia semakin menua. Akan banyak hal yang mungkin bisa berubah, entah itu perubahan yang dapat terlihat maupun perubahan yang tidak terlihat, namun pasti akan ada yang berubah. Tak tahulah, waktu yang bisa mengubah manusia atau manusia yang mengendalikan waktu. Mungkin saja keduanya benar.

Perubahan memang hakiki pada diri manusia, entah itu perubahan untuk menjadi lebih baik atau malah sebaliknya. Biarkanlah manusia berproses untuk hal itu dan biarkanlah waktu yang menjawab kemana perubahan itu akan membawanya, menuju kebaikan atau malah sebaliknya. Tetapi sesungguhnya, perubahan seperti apa yang dicari oleh setiap insan?

Aku mengenalmu jauh sebelum kau mengenal mereka. Jauh sekali sampai aku menyadari bahwa ternyata aku lebih mengenalmu dibandingkan diriku sendiri. Beriring berjalannya waktu, semua terasa berbeda. Mungkin ada benarnya bahwa pada esensinya manusia pasti tidak bisa menghindar dari perubahan.

Tapi mengapa kali ini seolah kita berada pada dimensi yang berbeda. Kau tak dapat aku terka, tak bisa aku kira, tak bisa aku rasa. Hanya sesekali saja dimensi kita bersinggungan pada satu garis potong. Itupun tak lama, hanya sekejap saja lalu dimensi kita kembali membentuk lingkaran masing-masing. Kita sibuk bermain dengan gelembung udara yang berada dalam dimensi kita masing-masing.

Mungkin karena terlalu asiknya kita sehingga lupa bahwa kita berasal dari satu pola yang sama. Kita terlalu asik dengan beraneka warna gelembung tersebut sehingga kita lupa bahwa kita telah terpisah semakin jauh.

Engkau berubah, aku berubah tetapi mengapa kita tidak menuju arah yang sama. Engkau seperti partikel kasat mata yang sama sekali tidak mampu aku terka hendak kemana engkau akan menuju. Hanya tanda tanya besar yang ada dikepalaku. Apakah sekarang aku masih mampu mengenalimu?

Duhai Anak Ku

Duhai anakku sayang

Maaf tidak bisa memelukmu, tidak bisa mendekapmu, tidak bisa bersama denganmu mengukir cerita, tak bisa berbagi suka dan duka, tak bisa menemanimu meraih asa, tak bisa beriringan bersama meraih mimpi.  Aku biarkan engkau sendiri mengejar matahari.  Bukan aku tak sayang padamu wahai lelaki kecilku.  Jauh didalam hati kecilku engkau sudah terpatri dan tidak mungkin akan terganti.  Meski nanti musim berganti, kemarau menjadi hujan kemudian menjadi kemarau lagi.  Waktu terus berlalu, siang berganti malam lalu menjadi siang kembali. Tempatmu akan selalu tetap dihatiku dan selalu akan berada disitu.

Wahai malaikat kecilku.

Sedih rasa tak terperi meninggalkan engkau dalam kondisi ini.  Tubuhmu masih begitu mungil, kulitmu saja masih merah, matamu pun masih belum bisa menyapa dunia dengan sempurna.  Dan dengan sangat berat, engkau harus aku tinggalkan. Tak tahu kapan akan bisa bersua denganmu lagi atau mungkin ini adalah pertemuan terakhir bagi kita.

Duhai anakku sayang

Nanti ketika engkau sudah bisa berpijak dibumi, ketika langkah kecilmu akan menjadi sebuah langkah besar.  Kau harus mampu untuk menghadapi dunia seorang diri dan menjadi tegarlah anakku.  Hadapi semua aral dengan perkasa.  Dan ketika kau sudah mampu untuk menaklukan dunia,  mungkin saat itu amarah telah berkobar dihatimu menyulut kebencian terhadapku yang telah dengan teganya meninggalkanmu.  Tapi yakinlah bahwa dengan ikhlas aku terima semua kebencianmu.

Lelaki kecilku

Aku tahu, aku terlalu hina dimatamu.  Aku hanya seorang pecundang yang telah meninggalkanmu dan tidak sedikitpun membagi kasih sayang kepadamu.  Tapi aku tidak perduli dengan sikapmu nanti terhadapku, biarlah itu urusan nanti.  Karena kau sendiri akan mengerti mengapa aku melakukan semua ini.

Oh anakku andai kau tahu betapa aku menyayangimu dan ingin selalu berada disampingmu tetapi aku harus melangkah dan terus berkelana. Berjalan jauh sekali, melangkah kemana seharusnya aku ada.  Bukan dirumah kita tapi dirumah yang seharusnya aku berada.

Aku Lelah Berkelana

Langkah dan terus melangkah menyusuri jalanan disepanjang dunia.  Melihat cakrawala yang membentang, bertualang menantang dunia.  Menyusuri jalan yang tak pernah kulalui.  Ada rasa gembira karena bertemu dengan dunia baru.  Menyaksikan betapa beragamnya insan yang ada.  Bertualang dari satu dunia menuju dunia yang lain, seakan tak pernah lelah untuk mengembara.  Berjalan menuju ujung langit, seakan ingin menggapainya tapi langit tak pernah dapat untuk digapai.

Hari merangkak menuju senja.  Rasanya kakiku sudah letih untuk melangkah.  Aku lelah untuk berkelana.  Tak elok rasanya untuk terus mengembara.  Mungkin sudah saatnya aku mencari persinggahan untuk melepas penat, bukan untuk sejenak tapi untuk selamanya.

Dibalik Sebuah Cermin

Tampak seorang gadis muda sedang berjalan menyusuri sebuah lorong gelap dan pekat, yang tercium hanya bau pengap dan lembab.  Sampai pada akhirnya ia tertahan di ujung lorong yang buntu.  Terdapat tembok yang menjulang tinggi dan menandakan bahwa ini adalah ujung dari lorong tersebut.  Hanya terdapat sebuah cermin besar yang tergeletak begitu saja disalah satu pojok tembok.  Mungkin cermin ini sudah menjadi sampah yang dibuang oleh pemiliknya.

Gadis itu pun perlahan mendekati cermin tersebut.  Melihat refleksi dirinya yang dipantulkan oleh cermin tersebut.  Ia pun menyentuh cermin tersebut, membersihkan debu yang berada di permukaan cermin agar ia bisa melihat dengan nyata rupa yang dipantulkan oleh cermin tersebut.

Gadis itu tertawa satir memandang cermin tersebut, angkuh senyum melukis indah diwajahnya yang sayu.  Lalu kemudian ia menangis, meratap sambil mengiba seakan mengasihani diri sendiri.

Ada apa dengan gadis muda tersebut?

Mengapa engkau menangis puan?

Bukankah engkau terlalu sempurna untuk di cintai anak adam wahai hawa?

Tidak sayangkah engkau membuang air matamu. Seharusnya engkau tetap tersenyum.  Sekali lagi, ia memandang cermin tersebut dengan mata sembab.  Menatap kembali bayangan dirinya.

Oh ternyata yang sempurna belum tentu sempurna.  Yang tampak indah belum tentu menawan.  Yang terlihat bahagia, bisa jadi menyimpan duka.  Yang dikira baik, bisa jadi buruk.  Yang terlihat religi, tak lebih dari seorang insan hina.  Semua hanya topeng kehidupan, masing-masing orang memiliki berbagai topengnya sendiri-sendiri.  Dan akan memakai topeng tersebut sesuai dengan keadaan.  Tak ada yang bisa ditebak, tak ada yang bisa diterka.  Refleksi yang ada hanya sekedar tampilan saja.  Semua tampak seperti fatamorgana yang tampak ciamik membalut nestapa.  Semua tak ubah seperti jantung pisang yang  menyembunyikan buahnya dalam balutan helai demi helai kuncupnya.  Menyimpan rapih yang seharusnya terlihat, sehingga membuatnya seolah menjadi sempurna tapi ternyata semua hanya menipu mata.

Lama gadis itu diam membatu, berdiri termangu didepan cermin.  Ragu dalam hatinya berkecambuk, apakah harus terus berlalu atau harus tetap disitu.  Hanya dia sendiri yang tahu.

#Renungan untuk diri sendiri

Surat Buat Aku

Semesta, 11 Februari 2014

Untuk Aku…..

Ingatkah aku, dahulu aku hanya jerit tangis.  Mampukah aku merasakan lafadz adzan ayah yang berdendang indah ditelinga mungilku.  Bisakah aku merasakan tetes air mata ibu yang dengan susah payah melahirkan aku.  Satu-satunya yang masih bisa aku rasakan sampai saat ini adalah dekap hangat dan kebahagiaan serta doa pengharapan dari kedua orang tuaku saat aku pertama kali menyapa dunia.

Aku……

Tak terasa jauh sudah langkah yang telah ditempuh.  Meninggalkan jejak demi jejak dalam setiap langkah hidup, entah itu baik atau buruk.  Melewati kisah demi kisah yang berhembus kemudian  berlalu tersapu hujan.  Paling tidak aku sudah merasakan kerasnya hidup.  Merasakan arti sebuah perjuangan, jatuh tersungkur dalam kegagalan.  Setidaknya semua perjalanan tersebut telah menguatkan aku bukan?    Mengajarkan  proses menjadi manusia yang seutuhnya.  Menjadi manusia yang mencoba untuk menerima apa yang alam sudah takdirkan untuk aku jalani.  Aku hanya perlu menjalani tanpa perlu untuk mengeluh.

Aku…..

Waktu terus berputar dan tidak akan berhenti walau kita memintanya untuk sejenak saja melepas penat.  Sekarang kita kembali pada titik yang sama. Titik dimana aku dilahirkan.  Semuanya masih sama, yang berbeda hanyalah aku dan keadaan sekelilingku.  Tak ada perayaan karena memang aku tidak menyukai itu.  Aku hanya butuh waktu sejenak untuk merenung. Memandang kembali jejak langkah yang pernah kutorehkan.  Dan sekarang aku berdiam diri pada suatu titik, berdiri menatap dunia, memandang luasnya semesta.  Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa dunia semakin menua.  Semoga pertambahan usiaku hanya akan menjadi penambah kebaikan saja. Amiin.