Pengalaman Pertama

Selalu ada yang berkesan disetiap pengalaman pertama. Gaji pertama, pacar pertama, termasuk juga malam pertama. Bahkan sebuah lagu berjudul “Pandangan Pertama” yang dipopulerkan oleh A. Rafiq menceritakan bagaimana sesuatu yang pertama selalu memberikan kesan yang mendalam.

Kali ini saya mencoba untuk bercerita mengenai pengalaman pertama saya ketika naik Lift. Tahun 2003, saat itu saya baru pindah ke Jakarta. Saya mengikuti test untuk masuk disalah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Kebenaran lokasi tempat saya test berada di lantai sembilan di gedung kampus tersebut. Sayapun berangkat lebih awal agar tidak telat. Walhasil, saya sampai dilokasi sejam sebelum test dimulai. Karena itu saya memutuskan untuk menunggu dikantin yang berada diluar pagar kampus. Setengah jam sebelum test dimulai, saya memutuskan untuk masuk kedalam kampus. Ternyata untuk naik kesetiap lantai dikampus tersebut menggunakan Lift. Jujur saya takjub karena dikota tempat saya berasal, pada saat itu tidak ada bangunan yang menggunakan Lift. Paling keren menggunakan eskalator.

Tiba-tiba saya jadi bingung sendiri mau naik lift atau tidak, apalagi saat itu memang tidak banyak orang yang ada di lobby kampus. Karena tidak tahu bagaimana cara menggunakan lift akhirnya saya putuskan untuk naik tangga darurat menuju lantai sembilan. Dengan perjuangan yang berat akhirnya satu demi satu anak tangga saya lalui. Lumayan menguras keringat juga naik tangga dari lantai satu ke lantai sembilan. Sampai-sampai baju yang saya kenakan basah oleh keringat. Setelah sampai dilantai sembilan ternyata pintu yang ada terkunci. Saya sama sekali tidak bisa masuk keruangan lantai sembilan. Mengingat waktu test yang tinggal sebentar lagi, dengan nafas yang terengah-engah saya bergegas menuruni anak tangga agar sampai dilobby. Pilihannya cuma satu saat itu yaitu naik lift. Sesampai dilobby untungnya ada orang yang sedang menunggu lift. Saya putuskan untuk naik bareng dengan orang tersebut. Ketika pintu lift terbuka melihat orang tersebut masuk saya juga ikut masuk. Didalam lift saya hanya memperhatikan orang tersebut menekan tombol angka yang menunjukan lantai yang akan dituju. Dalam hati saya berkata “oh rupanya begitu”. Dalam waktu hitungan menit ketika sudah sampai dilantai sembilan dan pintu lift sudah terbuka ternyata keaadaan diluar yang tadinya lobby kampus sudah berubah menjadi ruangan kosong. Sayapun segera keluar dari lift dan menuju dengan ruangan tempat saya test.

Andai saja saya bertanya bagaimana cara menggunakan lift mungkin saya tidak perlu membuang energi untuk naik tangga menuju lantai sembilan. Tapi itulah namanya pengalaman pertama. Selalu ada yang berkesan dan diingat dari sebuah pengalaman pertama.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s