Nyeruit, Salah Satu Bentuk Kebersamaan Masyarakat Lampung

Bagi masyarakat diluar provinsi Lampung, kata seruit merupakan kata yang asing dan jarang didengar. Seruit sendiri boleh dibilang sebagai salah satu panganan walaupun sebenarnya ia masuk kedalam jenis sambal. Seruit adalah campuran dari sambal terasi, daging ikan pepes/bakar, sayuran seperti terong rebus, juga jeruk sambal yang diaduk menjadi satu. Bahkan ada juga yang mencampurkan buah durian ataupun tempoyak (durian yang difermentasi) kedalam adonan sambal tadi. Seruit biasanya dimakan dengan nasi putih yang masih panas ditambahkan dengan lalapan segar dan lalapan rebus seperti daun singkong, daun kemangi, pete dan lain-lain. Bagi orang yang tidak terbiasa, rasanya mungkin aneh karena merupakan kombinasi dari rasa pedas, asam, manis. Pokoknya rasanya campur-campur. Seruit merupakan makanan rumahan, dan akan sangat jarang bila kita temui dirumah makan khas Lampung.

Yang unik dalam memakan makanan ini adalah karena saat memakannya dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga, sahabat, teman kerja ataupun orang-orang dekat. Karena justru kenikmatan makanan ini akan lebih terasa bila dimakan secara bersama dibandingkan dimakan sendiri. Oleh karena itu, kata nyeruit muncul untuk menggambarkan moment memakan seruit secara bersama-sama. Jadi boleh dibilang bahwa nyeruit adalah salah satu bentuk kebersamaan masyarakat Lampung.

Karena saya adalah orang Lampung asli, (walaupun sebenarnya saya gak jago berbahasa Lampung), saya sudah terbiasa dengan nyeruit. Bahkan ketika kuliah di Jakarta, Keluarga saya yang di Bekasi sengaja meluangkan waktu untuk nyeruit dihari minggu. Biasanya kakak saya mengundang saudara-saudara kami yang ada di Jakarta dan Tangerang untuk nyeruit bareng. Nyeruit bisa dijadikan ajang kumpul dan kebersamaan dan juga mengobati rasa kangen akan kampung halaman.

Nyeruit juga biasa dilakukan dirumah saya yang di Lampung. Biasanya dilakukan setelah lebaran. Momentnya pas banget karena biasanya banyak kerabat dari luar kota yang mudik kekampung halaman. Biasanya sebelum sanak famili kembali ke kota, keluarga selalu kumpul dirumah saya, hal ini karena ayah saya dituakan dalam keluarga. Jadi paman dan bibi pasti berkumpulnya dirumah. Kalau sudah ramai seperti ini biasanya nyeruit jadi makin asik dan menyenangkan. Makanpun bisa jadi lahap. Dan satu lagi yang menarik dari tradisi nyeruit adalah makannya bukan dimeja makan, tapi secara lesehan.

Nyeruit bukan sekedar makan bersama, tapi ini adalah salah satu bentuk kebersamaan yang boleh dibilang sudah mulai memudar karena terbentur kegiatan masing-masing personal. Nyeruit juga merupakan ajang silaturahmi antar keluarga, sahabat ataupun kolega. Hakikat dari nyeruit adalah nilai kebersamaan yang dirasakan cukup mahal dizaman sekarang, kebersamaan yang tidak bisa dinilai dengan uang, kebersamaan yang dapat memperat hubungan antar individu. Saya sangat setuju sekali apabila tradisi ini terus terpelihara ditengah kikisan budaya luar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s