Month: July 2012

Ramadhan Di Rantau (Episode 2 : Having Fun With My Old Friends)

Menginjak hari kedelapan puasa, tak terasa seminggu telah berlalu di bulan yang penuh barokah ini.  Seperti biasa, yang selalu menarik dari bulan ramadhan adalah acara buka puasa bersama.  Buka puasa biasanya dijadikan sebagai ajang silaturahim dan ajang temu kangen.  Beberapa hari belakangan jadwal saya untuk buka puasa telah full booked.  Jadi untuk yang mau mengajak bukbar, harap bersabar yaaa,,,,, hahahhaa #ditimpuk warga sekampung.

Naah dihari kedelapan ini, jadwal buka puasa saya bersama teman lama yang sudah lama tidak berjumpa.  Kebenaran saya sekarang stay di Palembang, dan salah satu sahabat saya yang bekerja di Jakarta, sedang liburan di Palembang.  Maka sejak jauh-jauh hari kami sudah mengatur waktu untuk bertemu.

Finally hari yang di tunggu datang juga, kami memutuskan untuk bertemu disalah satu Mall yang berada di Palembang.  Jam lima kurang kami sudah berada di TKP, setelah berkeliling pusat perbelanjaan tersebut, akhirnya kami mereservasi tempat agar nanti saat buka puasa, kami tidak perlu takut untuk tidak kebagian tempat.  Maklum dengan suasana ramadhan seperti, tempat-tempat makan menjelang bedug magrib biasanya ramai diserbu oleh orang yang ingin berbuka puasa bersama.

Setelah mendapatkan tempat makan disalah satu resto yang berada dimall tersebut, kami sengaja memilih untuk duduk saja dan bertukar cerita sambil menunggu sahabatku yang satu lagi dan sambil menunggu kumandang adzan magrib.

Menu Buka Puasa kami 😀

Akhirnya adzan magribpun berkumandang, tanpa tedeng aling-aling, makan yang ada langsung kami sikat bersih.  Maklum kali ini saya berbuka puasa bersama gerombolan si berat dan hanya dalam hitungan menit semuanya ludes tanpa sisa. Hehhehheh

Seperti biasa, saat bernarsis ria walau dengan agak sedikit malu-malu meminta bantuan pelayan resto untuk mengabadikan gambar kami.

dari kanan ke kiri : Dedi, Gue, Rena, Makwo dan calonnya Makwo 🙂

Acara masih terus berlanjut, menu wajib yang biasanya disantap dan tidak pernah bosan-bosannya adalah mpek-mpek.  Kamipun langsung meluncur kesalah satu Warung mpek-mpek yang berada di seberang Mall tersebut.  Menuju ke warung mpek-mpek tersebut seperti biasa foto-foto di beberapa spot yang terlihat menarik.

Kami langsung memesan 2 piring mpek-mpek kecil plus es kacang merah khas Palembang.  Kedua makanan tersebut  tidak kami biarkan berlama-lama dalam peraduannya. Langsung kami sikat.

es kacaaang

Setelah selesai ngobrol, dan kami rasa malam semakin larut, akhirnya kami putuskan untuk pulang.  Malam itu, semua senang, bertemu dengan orang-orang yang telah lama tidak bersua, mengetahui kabar baik dari mereka, berbagi cerita bersama.  Memang tidak ada yang lebih indah dari sebuah Persahabatan. 😀

Advertisements

Ramadhan Di Rantau (Episode 1 : Kambang Iwa)

Selamat siang semua, selamat menunggu bedug magrib.  Kali ini saya akan mencoba untuk membuat cerita berseri  mengenai pengalaman ramadhan saya di tahun ini.  Mungkin agak telat untuk memulai cerita ramadhan karena ini telah menginjak hari ke tujuh puasa.  Tapi it’s better late than never bukan?  Selain itu juga saya memang tidak ada bahan untuk membuat tulisan.  Makanya terfikir untuk membuat tulisan edisi Ramadhan.

Merasakan Ramadhan sendiri sebenarnya bukan hal yang baru buat saya.  Hampir selama sepuluh tahun belakangan ini saya selalu merasakan suasana ramadhan jauh dari orang tua.  Walaupun ketika ada waktu luang di bulan Ramadhan saya selalu menyempatkan diri untuk kembali kerumah.  Kalau beberapa tahun belakangan ini saya menjalankan ibadah Ramadhan di Lampung, untuk tahun ini, pertama kalinya saya menjalankan ibadah puasa di kota Palembang.

Saya tiba di Palembang pada hari ke lima puasa.  Awal ramadhan saya lalui di Baturaja.  Suasana baru dan kondisi yang berbeda dari yang biasa saya alami.  Namanya juga ramadhan selalu ada yang special, mulai dari menu makanan, perbaikan kualitas hidup sampai dengan intensitas ibadah.  Hari ini, untuk berbuka puasa, saya dan beberapa teman kantor memutuskan untuk berbuka bersama.  Pilihan tempat pun akhirnya kami putuskan di daerah kambang iwa.

Kambang iwa sendiri boleh dibilang sebagai wilayah hijau dikota Palembang.  Letaknya berada ditengah kota.  Kambang sendiri berarti danau atau telaga sedang iwa berarti ikan.  Jadi kambang iwa adalah danau berikan (maksa banget menterjemahkannya) 😀    Jadi memang terdapat danau yang cukup luas ditengah kota Palembang dan oleh pemerintah setempat membuat disekeliling danau sebagai jalur/jalan yang bisa digunakan sebagai jogging track atau jalur untuk pejalan kaki.  Selain itu, bermacam pohon sengaja ditanam disekeliling danau untuk menambah kesan asri diwilayah tersebut.  Beberapa tempat duduk disediakan untuk pengunjung yang ingin menikmati suasana danau yang terdapat air mancur di tengahnya.  Tempat ini biasa dijadikan sabagai tempat olah raga oleh masyarakat Palembang atau mereka datang hanya untuk bersantai ria.  Tempat ini juga dijadikan sebagai tempat nongkrongnya anak-anak muda disini sehingga tidak heran banyak sekali resto dan café yang menjamur disekitar wilayah ini.  Buat yang penasaran, ini foto-foto yang berhasil saya abadikan.

Mengingat ini adalah bulan ramadhan, disalah satu sudut wilayah ini mengadakan seperti bazaar makanan ringan untuk berbuka puasa, namanya Kif Park.  Walaupun tidak terlalu banyak pedagang yang menjajajakan makanan,  akhirnya saya dan teman-teman saya membeli beberapa bungkus pangan ringan untuk berbuka puasa.  Kami membeli risoles dan kue srikaya.  Kue srikaya adalah kue khas Palembang yang lezaat. J

Menjelang waktu berbuka puasa, saya dan ketiga orang teman saya segera menuju kesalah satu resto yang berada disekeliling wilayah ini.  Nama restonya Dapur Wak Baban.  Karena memang telah reservasi dan memesan menu terlebih dahulu, makanya kami hanya tinggal menunggu menu pesanan kami datang. Ini menu santap yang saya makan ketika berbuka puasa.

Akhirnya kumandang adzan magrib pun bergema bertanda puasa hari ini telah terselesaikan dengan sempurna.  Semoga puasa kami hari ini menjadi ibadah yang akan menjadi tabungan untuk kami diakhir nanti.  Semoga puasa kali ini menjadikan kami manusia yang lebih baik dalam bertindak dan dapat meningkatkan kualitas hidup kami. Amiiiiin  😀

Menikmati Senja di Baturaja

Halloha semuaaa,,,,,

Lama tak bersua yaaah kita, hehhehehe,,,,,  apa kabarnya semua? Semoga baik-baik saja.  Gimana puasanya, lancar saja kah?? Baiklah saatnya kita untuk berblog ria.  Kali ini saya akan menceritakan pengalaman menikmati senja selama beberapa hari di Kota Baturaja.

Hayoo pada bingung yaah dengan nama kota yang saya sebutkan.  Yups kota Baturaja sendiri, terletak di ujung provinsi Sumatera Selatan.  Berjarak sekitar kurang lebih 200 kilometer dari Palembang,  untuk menuju kota ini ditempuh sekitar lima jam perjalanan melalui perjalanan darat.  Seperti biasa perjalanan saya melalui daerah perkebunan karet dan perkebunan kelapa sawit.  Menyusuri jalan yang jarang terjamah oleh pengendara, karena jalan raya menuju kota Baturaja, tidak terlalu ramai oleh kendaraan umum dan kendaraan pribadi.

Perjalanan saya dimulai hari selasa tanggal 17 juli 2012 jam 12 siang.  Sengaja saya berangkat siang agar bisa sampai disana sore hari.  Kota Baturaja sendiri cukup unik.  Kota ini bukanlah kota yang cukup besar, jauh dari kesan megah.  Namun hal yang menarik adalah bangunan dikota ini masih terkesan natural.  Saya banyak menjumpai rumah-rumah panggung yang terbuat dari papan, rumah tersebut tampak berdiri kokoh walau sudah puluhan tahun berdiri.  Satu hal lagi yang terkenal dari kota ini adalah perusahaan semen nya.  Mungkin pernah dengar PT Semen Baturaja, salah satu perusahaan BUMN.  Yups kota ini adalah cikal bakal lahirnya salah satu perusahaan semen terbesar diindonesia tersebut.  Ini foto-foto suasana kota Baturaja.

Ternyata semua berjalan sesuai dengan rencana, saya sampai jam setengah lima sore.  Dan langsung menuju ke kantor untuk bertemu dengan sahabat saya.  Setelah jam kantor selesai, saya diajak untuk menghabiskan sore di taman kota Baturaja.  Disinilah tempat nongkrongnya masyarakat Baturaja.  Ditempat ini banyak yang jualan makanan seperti jagung bakar, mie tek-tek, aneka minuman. Tempat ini pula dijadikan sarana olah raga untuk anak muda disini.  Ditaman kota, saya dan teman-teman menikmati es kacang merah yang segeer dan bikin ngiler. Hehehheh  ditemani dengan empek-empek yang laziz,,, sore yang sempurna ditemani dengan segurat semburan senja berwarna jingga.  Ini foto-foto saya di taman kota. 

Saya benar-benar menikmati perjalanan saya di kota ini.  Karena unsur tradisional masih begitu kental dikota ini.  Dan satu lagi yang khas dari kota ini adalah bentor,  yups dikota ini terdapat bentor seperti di medan.  Dan saya pun memenuhi memenuhi hasrat narsis saya untuk foto-foto di atas bentor, walau hanya di parkiran kantor. Hehhehehhe  Terima Kasih untuk abang Bentor yang telah bersedia meminjamkan bentor sebagai bahan properti untuk foto sesion saya. Hahhahahaaa,,,,,,,,.

narsis dan eksis

narsis dan eksis

Selama beberapa hari di Baturaja tak terasa Ramadhan telah tiba.  Awal Ramadhan yang jatuh pada hari sabtu, saya pulang ke rumah untuk merasakan buka dan sahur bersama keluarga tercinta.  Dan hari senin saya kembali ke kota Baturaja.  Kali ini untuk buka puasa, saya di ajak ke pasar Bedug di taman kota.  Suasananya pasar bedug cukup ramai.  Banyak sekali yang berjualan takjil dan menu untuk berbuka.  Ini suasana pasar bedug di kota Baturaja.  Setelah selesai membeli menu makanan ringan untuk buka puasa, seperti biasa menghabiskan waktu di taman kota sambil menunggu kumandang adzan magrib. Saat Baru Sampai pasar Bedug

Suasana Pasar Bedug 🙂

Kondisi Pasar yang ramai sekali

Jajan kue yang enyaaaaaaak,,,,,,,

sempet-sempetnya narsis pas mau belanja 😀

sambil menunggu bedug

narsis menjelang magrib

selalu narsis, gak bisa liat tempat yg oke dikit langsung pose

Terima Kasih semua,,,,,, see u in the next story

Akhirnya perjalanan saya di Baturaja, telah selesai.  Saya harus kembali ke Palembang.  Terima kasih jenk Nadira Fitriana dan teman-teman  di Baturaja atas penyambutannya yang hangat.  Sampai berjumpa lagi dilain kesempatan. Sukses buat team Baturaja 🙂

I Love My Journey

Semua yang dikerjakan dengan rasa suka cinta akan sangat ringan dalam menjalankannya.  Aish bijak banget ya saya,,,, hehheheh.  Apa kabar semuanya.  Sudah hampir menginjak hari kesepuluh dibulan july tapi belum ada satu postingan yang saya buat.  Baiklah kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan saya ke kota Muara Bungo.  Muara Bungo terletak di provinsi Jambi.  Letaknya berada paling ujung provinsi ini.  Perjalanan menuju Muara Bungo ditempuh melalui delapan jam perjalanan darat.

Perjalanan saya dimulai pukul 8 pagi, pada Rabu 4 Juli 2012.  travel yang membawa saya melintas melewati hutan, perkampungan dan juga perkebunan karet dan sawit yang terhampar luas membentang.  Jalan yang dilalui pun jauh dari kondisi baik karena kendaraan berat yang lalu lalang disana menyebabkan jalan menjadi rusak dan berlubang.  Ini foto-foto sepanjang perjalanan yang sempat terekam dikamera saya.

Travel yang saya tumpangi hanya membawa empat penumpang, satu orang duduk di samping sopir, satu orang di kursi belakang dan saya beserta satu orang lagi di kursi tengah.  Kebenaran penumpang yang duduk disamping saya adalah warga negara India yang tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia.  Dan kamipun berkenalan serta berbincang sepanjang jalan.  Awalnya dia menanyakan berapa lama perjalanan menuju Muara Bungo dengan menggunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu lancar.  Karena ini adalah pertama kali saya kesana, maka sayapun jawab tidak tahu.  Selanjutnya kamipun berbincang menggunakan bahasa inggris.  Walaupun bahasa inggris saya tidak terlalu baik, namun dia bisa mengerti maksud pembicaraan saya.  Lumayan sekalian memperlancar kemampuan bahasa inggris saya yang sudah lama tidak terasah.  Nama sahabat baru saya tersebut adalah Nishikant Mishra, dia bekerja disalah satu perusahaan pertambangan.  Ini adalah pertama kalinya dia ke Jambi dan Muara Bungo.  Dan dia sedang ada project di Muara Bungo.

Sampai di Muara Bungo pukul empat sore.  Seperti biasanya, saya tidak betah hanya berdiam diri di Hotel.  Saatnya mengeksplore Kota ini dikala sore.  Muara Bungo memiliki kota yang cukup besar.  Kotanya cukup hidup dan ramai.  Saya menyusuri jalan utama disekitar Hotel tempat saya menginap.  Dan sore itu saya menemukan soulemate saya, Duriaaan…. Hehhehehe,  dikota ini memang sedang musim buah durian jadi harga durian disini tergolong murah.  Lima belas ribu rupiah untuk dua buah durian dengan ukuran lumayan besar.   Puas berjalan-jalan saya kembali kehotel untuk beristirhat.

Pekerjaan saya di Muara Bungo ini cukup complicated sehingga saya tidak memiliki banyak waktu luang untuk menikmati kota ini.  Baru ketika hari minggu saya benar-benar bebas dari rutinitas.  Pagi-pagi sekali saya bangun dan seperti biasa dengan berjalan kaki saya menyusuri jalanan di kota ini.  Melewati dua buah tugu Bunga Bangkai dan beberapa tempat di Muara Bungo.  Ini foto kondisi Muara Bungo dikala pagi hari.

Ketika melewati pasar tradisional yang cukup ramai, sayapun tergerak untuk singgah sebentar dan melihat pasar disana.  Sangat menyenangkan sekali berada dipasar tradisional, saya bisa langsung melihat wanita-wanita sedehana berbelanja.  Sangat Indonesia sekali.  Saya bangga lahir di Negara yang kaya ini.  Berada di pasar tradisional membuat saya teringat akan masa kecil.  Dahulu saya suka sekali ikut ibu saya ke pasar.  Ini foto kondisi pasar tradisional di Muara Bungo.

Didepan pasar banyak sekali yang berjualan durian.  Dan saya pun sarapan durian dua buah.  Hahahhahaa….. rasanya sudah lama tidak makan durian dan saya sangat puas sekali bisa menikmati buah ini di Kota ini.