A Y A H

Kata AYAH mendeskripsikan sebagai seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupku.  Telah menggoreskan pensil kehidupan dan memberikan warna dalam kertas kosong kehidupan yang aku jalani.  Mungkin berjuta rasa terima kasih dan berbagai hadiah tidak akan bisa menggantikan apa yang telah beliau berikan.

Masih terngiang bagaimana ayah selalu memanjakan kami anak-anaknya.  Mencoba memenuhi segala kebutuhan dan saya merasa memiliki masa kecil yang sempurna.  Walaupun terkadang ayah bersikap sangat keras terhadap anak-anaknya, namun setelah dewasa saya menyadari bahwa tempaan yang beliau berikan membuat saya sadar bahwa hidup itu tidak mudah.  Hidup itu keras dan butuh perjuangan untuk mendapat apa yang kita inginkan.

Ayahku seorang pekerja keras, dia bekerja demi keluarganya dan tidak ingin kami hidup dalam kekurangan.  Kehidupan keluarga kami ketika kecil memang tidak berlebihan namun tidak juga kekurangan.  Ayah selalu berusaha memenuhi apa yang kami butuhkan sejauh itu memang kami butuh.

Sekarang tubuh kekar itu perlahan mulai menua dan menjadi rapuh.  Sedikit demi sedikit tubuhnya mulai renta akan penyakit.  Kulit yang mulai menua, keriput mulai menghiasi wajah yang menggambarkan kerasnya perjuangan hidup.  Hari ini kulihat tangannya, kulit yang mulai mengendur melapisi tulang-tulang rapuh itu.  Urat-urat  menghiasi kulit tangan yang menandakan bahwa kerasnya perjuangan hidup yang telah dilalui.  Rambut yang kian hari kian memutih sudah mulai memenuhi kepalanya.  Oh ayah, ternyata waktu begitu cepat berlalu, menciptakan kenangan demi kenangan yang lekat terpatri dalam dada ini.  Bayangan dari kenangan silam terkadang datang bertandang, membuka setiap memori yang terekam jelas di hati.  Mengingatmu menggendongku dengan tangan kekarmu, kau timang aku dengan sejuta kasihmu, kau selalu banggakan aku kepada setiap orang.  Lihat, ini putraku, anak kebanggaanku.  Serumu kepada semua orang.  Walau terkadang dengan lantang kau memarahiku, dan dengan tingginya egoku melawanmu karena aku tak tahu sebenarnya aku salah atas setiap tindakan yang aku lakukan.  Ingin rasanya kembali kemasa itu, menjadi bagian dalam melodimu, melengkapi simfoni musik dalam hidupmu.

Dan senja ini, seperti biasa ku temani kau duduk di teras rumah.  Curi pandangku menatap wajah teduhmu.  Menikmati indahnya senja bersamamu di jingganya langit.  Aku hanya diam, menikmati setiap detik demi detik bersamamu.  Dan kembali merasakan hangat kasihmu seperti dulu.

2 comments

  1. Sering bagian Ayah terlupakan karena sosok ini tidak ingin memperlihatkan apa yang diperjuangkannya. Tapi saya yakin setiap ayah melakukan yang terbaik untuk keluarganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s