Dibalik Sebuah Cermin

Tampak seorang gadis muda sedang berjalan menyusuri sebuah lorong gelap dan pekat, yang tercium hanya bau pengap dan lembab.  Sampai pada akhirnya ia tertahan di ujung lorong yang buntu.  Terdapat tembok yang menjulang tinggi dan menandakan bahwa ini adalah ujung dari lorong tersebut.  Hanya terdapat sebuah cermin besar yang tergeletak begitu saja disalah satu pojok tembok.  Mungkin cermin ini sudah menjadi sampah yang dibuang oleh pemiliknya.

Gadis itu pun perlahan mendekati cermin tersebut.  Melihat refleksi dirinya yang dipantulkan oleh cermin tersebut.  Ia pun menyentuh cermin tersebut, membersihkan debu yang berada di permukaan cermin agar ia bisa melihat dengan nyata rupa yang dipantulkan oleh cermin tersebut.

Gadis itu tertawa satir memandang cermin tersebut, angkuh senyum melukis indah diwajahnya yang sayu.  Lalu kemudian ia menangis, meratap sambil mengiba seakan mengasihani diri sendiri.

Ada apa dengan gadis muda tersebut?

Mengapa engkau menangis puan?

Bukankah engkau terlalu sempurna untuk di cintai anak adam wahai hawa?

Tidak sayangkah engkau membuang air matamu. Seharusnya engkau tetap tersenyum.  Sekali lagi, ia memandang cermin tersebut dengan mata sembab.  Menatap kembali bayangan dirinya.

Oh ternyata yang sempurna belum tentu sempurna.  Yang tampak indah belum tentu menawan.  Yang terlihat bahagia, bisa jadi menyimpan duka.  Yang dikira baik, bisa jadi buruk.  Yang terlihat religi, tak lebih dari seorang insan hina.  Semua hanya topeng kehidupan, masing-masing orang memiliki berbagai topengnya sendiri-sendiri.  Dan akan memakai topeng tersebut sesuai dengan keadaan.  Tak ada yang bisa ditebak, tak ada yang bisa diterka.  Refleksi yang ada hanya sekedar tampilan saja.  Semua tampak seperti fatamorgana yang tampak ciamik membalut nestapa.  Semua tak ubah seperti jantung pisang yang  menyembunyikan buahnya dalam balutan helai demi helai kuncupnya.  Menyimpan rapih yang seharusnya terlihat, sehingga membuatnya seolah menjadi sempurna tapi ternyata semua hanya menipu mata.

Lama gadis itu diam membatu, berdiri termangu didepan cermin.  Ragu dalam hatinya berkecambuk, apakah harus terus berlalu atau harus tetap disitu.  Hanya dia sendiri yang tahu.

#Renungan untuk diri sendiri

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s