Trip ke Bukittinggi, Sumatera Barat

Ranah minang memang selalu menyimpan pesonanya. Tidak hanya kaya akan budaya dan kulinernya yang sudah terkenal, tapi juga menyimpan berjuta pesona yang tidak akan habis dijelajah hanya dalam waktu satu atau dua hari. Setiap daerah di ranah minang selalu menyimpan keindahan sendiri untuk dinikmati.

Kali ini kaki saya melangkah kesalah satu kota diranah minang, yaitu Bukittinggi. Perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan bagi saya karena trip ke Bukittinggi ini saya lakukan sendirian. Ini adalah trip pertama saya seorang diri tanpa menggunakan jasa travel agent. Awalnya saya ingin mengunjungi kota Padang dan Bukittinggi namun karena keterbatasan waktu akhirnya saya hanya mengunjungi kota Bukittinggi.

Kota Bukittinggi sendiri merupakan kota yang pernah menjadi ibukota negara kita. Kota yang terletak didataran tinggi ini berudara sangat sejuk dan jika malam hari, udara dingin mulai terasa. Perjalanan ke Bukittinggi sebenarnya perjalanan yang tidak disengaja. Awal bulan Oktober kemarin saya mendapat tugas pemeriksaan di kota Muara Bungo, Jambi. Muara Bungo sendiri merupakan kota yang terletak di ujung provinsi Jambi dan hanya perlu waktu beberapa jam saja untuk sampai ke provinsi Sumatera Barat dari Muara Bungo. Oleh karena itu, dengan modal nekat saya berani diri untuk melakukan perjalanan singkat ke Bukittinggi ini.

Perjalanan dari Muara Bungo ke Bukittinggi hanya menempuh waktu enam sampai tujuh jam perjalanan darat. Dengan menggunakan travel seharga Rp.130.000, saya sudah bisa menuju Bukittinggi. Perjalanan menuju Bukittinggi melewati kota Solok, tanah datar dan menyusuri sepanjang tepian Danau Singkarak. Ranah minang memang dianugerahi keindahan alam yang tiada duanya. Sepanjang perjalanan mata disuguhi dengan keindahan alam yang memanjakan mata. Dan tidak bosan-bosannya mata saya berdecak kagum atas lukisan alam yang terlukis dalam keindahan kanvas semesta. Keindahan pegunungan berpadu dengan hamparan hijaunya persawahan, ditambah lagi dengan aliran sungai dengan bebatuannya. Keindahan tersebut masih ditambah dengan rindangnya pohon kelapa dan rumah-rumah penduduk pedesaan yang sederhana dan bahkan beberapa rumah gadang tampak menghiasi perkampungan yang saya lewati. Ini sungguh benar-benar suasana perkampungan yang ada dalam pikiran dan imajinasi saya akan makna kampung yang sesungguhnya. Sungguh beruntung sekali mereka yang tinggal diperkampungan tersebut.

Memasuki kota Bukittinggi, udara dingin sudah mulai terasa. Saya sampai di Bukittinggi sekitar pukul empat sore dan langsung menuju penginapan yang sudah saya booking sebelumnya. Penginapan yang akan saya tempati berada di kampung cina dan berada dipusat kota Bukittinggi. Nama penginapan tersebut bernama Hello Guest House, saya mendapat referensi penginapan ini dari beberapa blog yang saya baca. Dengan harga yang relatif murah setiap kamarnya, yaitu 150 Ribu untuk kamar Double dan 120 Ribu untuk kamar single. Selain itu juga menyediakan kamar Dorm bagi yang ingin berbagi kamar dengan backpacker lainnya. Awalnya saya ingin merasakan sensasi berbagi kamar dengan alasan harga kamar yang lebih murah. Namun pemilik penginapan yang nama LING, menyarankan saya untuk memilih kamar single saja. Akhirnya saya mengikuti saran dari Ling tersebut. Dan ternyata sesampai dipenginapan kamar single sudah fullbooked, karena sudah melakukan konfirmasi via email dengan Ling sebelumnya, akhirnya ling memberikan saya kamar double dengan bed besar namun dengan harga kamar single. Oh ling,sungguh baik sekali. Untuk menuju ke Hello Guest House sendiri cukup mudah, berada di Kampung Cina, dekat dengan mesjid Nurul Haq dan tepat berada didepan Hotel Grand Kartini. Fasilitas kamar yang disediakan cukup nyaman, lengkap dengan air panas namun tidak tersedia pendingin ruangan karena memang dinginnya udara di Bukittinggi apalagi ketika malam hari.

Hello Guest House, Bukittinggi

Hello Guest House, Bukittinggi

kamar di Hello Guest House, Bukittinggi

kamar di Hello Guest House, Bukittinggi

20141017_170101Sesampai dipenginapan, setelah meletakan barang, ling langsung memberikan peta wisata kepada saya dan menjelaskan letak tempat wisata yang ada di Bukittinggi. Ternyata seluruh tempat wisata bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari penginapan tempat saya menginap. Karena sudah agak sore, saya memutuskan untuk melihat landmark dari kota Bukittinggi yaitu Jam Gadang. Sejarah dan dari mana jam ini berasal/dibuat mungkin sudah banyak yang tahu. Yang jelas jam yang hampir sama dengan Big Ben yang ada di London ini merupakan daya tarik bagi wisatawan untuk melihatnya. Sayang disekitar area jam gadang banyak pedagang kaki lima yang berjualan mulai dari jualan makanan, pakaian sampai dengan aksesoris. Hal ini membuat areal jam gadang tampak kumuh dan tidak menarik. Beberapa delman lengkap dengan kudanya juga tampak berjejer diseputaran areal jam gadang.

Sambil menikmati jam gadang disore itu, saya mencoba es cendol lengkok durian khas Bukittinggi. Esnya sama seperti es cendol biasanya, hanya saja cendolnya berwarna merah yang diberi nasi ketan dan bubuk yang menurut saya itu adalah kelapa parut yang di sangrai lalu ditambahkan dengan durian. Selain itu tak lengkap rasanya kalau tidak mencoba sate padang diranah minang. Lengkaplah makanan tersebut menutup sore saya.

Suasana Jam Gadang

Suasana Jam Gadang

Jam Gadang ketika Sore

Jam Gadang ketika Sore

Menjelang magrib saya kembali ke penginapan untuk bersih-bersih. Dengan air yang sedingin air es, saya pun nekat untuk mandi. Rupanya udara dingin membuat perut saya kembali keroncongan. Saya kembali keluar untuk berjalan-jalan pada malam itu dan kembali ke areal jam gadang. Rupanya areal ini semakin ramai ketika malam.   Sayapun mencoba bakso yang berada disekitar pasar atas. Rasa baksonya biasa saja menurut saya tapi tetap saya habiskan karena lapar. Hehhehhee

Jam Gadang Ketika malam

Jam Gadang Ketika malam

Arus modernisasi juga melanda kota Bukittinggi. Diareal jam gadang, selain ada pasar atas/pasar ateh juga terdapat plaza yang berdiri cukup besar. Selain itu beberapa restaurant cepat saji juga tampak berada disekitar areal jam gadang dengan menyewa ruko. Rintik hujan, turun pada malam itu, sayapun bergegas kembali kepenginapan untuk segera beristirahat.

Pagi-pagi sekali saya bangun, seperti biasa saya menjelajah jalanan di kota Bukittinggi yang masih berselimut kabut. Kembali lagi ke jam gadang lalu saya menyusuri lorong jalan di pasar ateh yang sebagian besar tokonya masih tutup. Pasar ateh sendiri seperti pasar tradisional pada umumnya. Terdiri dari kios-kios yang menjual pakai, aksesoris maupun oleh-oleh khas minang. Sayapun segera menuju ke pasar bawah melalui lorong pasar ateh dan melewati janjang ampek puluah.

Janjang ampek puluah adalah penghubung antara pasar ateh dan pasar bawah yang berupa tangga yang konon katanya berjumlah empat puluh.   Pasar bawah sendiri merupakan pasar tradisional yang menjual buah-buahan dan sayuran kalau pagi, biasanya pedagang berjualannya sampai ke bahu jalan. Puas menikmati transaksi jual-beli di pasar bawah, sayapun bergegas kembali kepenginapan untuk beres-beres sebelum melanjutkan untuk mengunjungi tempat lainnya. Oh yaa, di Bukittinggi sendiri, jangan pernah sungkan untuk bertanya jika tidak mengetahui arah jalan karena masyarakat di Bukittinggi terkenal akan keramahannya terhadap wisatawan. Jadi jangan pernah takut tertipu yaaa….

Suasana Bukittinggi ketika pagi

Suasana Bukittinggi ketika pagi

Sudut lain kota Bukittinggi

Sudut lain kota Bukittinggi

Ruko di Bukittinggi yang masih tutup

Ruko di Bukittinggi yang masih tutup

Janjang Ampek Puluah

Janjang Ampek Puluah

Gerbang Janjang Ampek Puluah

Gerbang Janjang Ampek Puluah

Kembali kepenginapan, saya langsung bergegas untuk segera bersih-bersih dan melanjutkan perjalanan. Jam setengah delapan saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menuju ke ngarai sianok yang terkenal itu. Tempat yang indah untuk melihat ngarai sianok adalah dari taman panorama. Diperjalan menuju taman panorama, saya mampir sebentar dipasar yang saya tidak tau namanya. Pasar itu berada diperempatan jalan. Saya mencari sarapan dulu, sebelum melanjutkan perjalanan. Mampir diwarung makan Nadia yang menyediakan beragam menu sarapan. Sayapun memilih menu Lontong pical. Lontong pical sendiri merupakan lontong yang diberi dengan mie kuning dan daun selada lalu disiram dengan saus kacang dan dimakan dengan kerupuk merah. Menurut saya sih hampir sama dengan ketoprak. Seporsi lontong pical seharga 9000 lengkap dengan gorengan sudah mampu memberikan saya tenaga ekstra pagi itu.

Saya melanjutkan langkah saya menuju taman panorama yang tidak berada begitu jauh dari tempat saya sarapan. Karena masih pagi dan baru saja buka, sehingga belum banyak pengunjung yang datang. Dengan tiket seharga lima ribu rupiah, pengunjung sudah bisa menikmati taman panorama. Dari taman panorama inilah kita bisa melihat ngarai sianok yang terkenal tersebut. Yang menurut saya menarik adalah, hamparan hijau sawah dan Ngarai Sianok tersebut berada ditengah kota. Bisa dibayangkan ada ngarai yang letaknya ditengah kota. Beberapa fasilitas tampak sedang dibangun di taman Panorama tersebut. Terdapat beberapa kios yang berjualan cinderamata di taman panorama tersebut. Selain banyak terdapat pohon-pohon besar yang terdapat di taman Panorama tersebut, terdapat juga monyet yang berkeliaran disana. Untuk lebih menikmati Ngarai sianok sayapun naik keatas sebuah menara yang cukup tinggi. Dari atas menara tampak terlihat hamparan hijaunya pemandangan. Sayang akibat adanya pembakaran hutan yang melanda sebagian besar wilayah di Sumatera, menyababkan kota bukit tinggi terkena efek dari kabut asap, sehingga pemandangan yang ada tampak tidak sempurna.

Ngarai Sianok, sayang banyak kabut asapnya

Ngarai Sianok, sayang banyak kabut asapnya

20141018_083116Puas menikmati keindangan ngarai sianok, saya berjalan menuju “The Great Wall of Koto Gadang” yang tidak berada jauh dari Ngarai Sianok. Antara Ngarai Sianok dan Great Wall, terdapat Goa jepang namun karena masih terlalu pagi, objek wisata ini belum buka sehingga saya lewatkan saja. Perjalanan menuju The Great Wall Of Koto Gadang melewati jalanan yang curam. Namun mata disuguhi dengan hamparan sawah dan bukit yang tampak hijau. Ketika akan menaiki The Great Wall, saya melewati jembatan gantung berwarna merah. Konon katanya jika melewati jembatan ini, hanya bisa dilalui maksimal oleh 10 orang. Pendakian di Great Wall sungguh menguras tenaga karena pengunjung harus mendaki anak tangga yang cukup curam. Namun sepanjang pendakian mata akan disuguhi dengan pesona alam ranah minang yang tidak pernah bosan untuk dipandang. Sayang sekali objek wisata ini tidak luput dari tangan-tangan usil yang mencoret-coret dinding tembok.

Gerbang The Great Wall of Koto Gadang

Gerbang The Great Wall of Koto Gadang

Hamparan hijau sepanjang jalan menuju The Great wall

Hamparan hijau sepanjang jalan menuju The Great wall

20141018_084646

Jembatan menuju The Great Wall

Jembatan menuju The Great Wall

Ini dia,,, The Great wall Of Koto Gadang

Ini dia,,, The Great wall Of Koto Gadang

Selfie dgn bantuan kotak sumbangan... :p

Selfie dgn bantuan kotak sumbangan… :p

Setelah dengan penuh perjuangan, akhirnya saya sampai di Koto Gadang yang merupakan penghujung dari The Great Wall. Sayapun menyusuri jalan setapak menuju Koto Gadang yang merupakan perkampungan yang dikenal dengan kerajinan peraknya. Yang menarik adalah masih banyak rumah-rumah dengan arsitektur kuno disini. Sampai di Koto Gadang walaupun masih jam 10 pagi, saya langsung menuju ke salah satu rumah makan yang menyediakan itiak lado hijau. Sebenarnya saya bukan pecinta daging bebek. Malah saya selalu menghindari untuk memakan daging bebek. Namun karena menu ini sangat terkenal dan wajib untuk dicoba jika ke Bukittinggi, oleh karena itu sayapun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk merasakan gulai tersebut.

Dan diluar prediksi saya, ternyata daging bebeknya tidak amis seperti yang saya bayangkan. Ini mungkin karena bebek yang dipilih adalah bebek yang masih muda, selain itu bumbu rempah yang membalut daging bebek tersebut cukup banyak sehingga mampu menetralisirkan bau amisnya. Tanpa banyak bicara, seporsi gulai itiak lado hijau tersebut ludes dan hanya tinggal tersisa tulangnya saja.

Itiak Lado Hijau,,, Lemaak Niaan....

Itiak Lado Hijau,,, Lemaak Niaan….

Setelah perut kenyang, saya melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan di Koto Gadang. Akhirnya sampai pada satu rumah gadang yang cukup besar dan merupakan balai adat dari daerah setempat lalu saya terdiam sejenak.   Melihat indah pemandangan di Koto Gadang. Keindahan rumah penduduk yang terkesan kuno dan beberapa rumah Gadang dibalut dengan keramahan penduduk setempat yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai budaya. Kecantikan tersebut dibalut lagi dengan keindahan alam yang luar biasa indahnya. Pegunungan, persawahan dan keasrian alam dengan udara yang sejuk merupakan tempat tinggal idaman yang didambakan setiap orang.  Cukup lama saya terdiam sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali kepenginapan. Karena agak lelah, saya memutuskan untuk naik angkot menuju kembali ke Bukittinggi. Lagi-lagi sepanjang perjalanan mata saya tidak habis-habisnya dimanjakan oleh keindahan alam ranah minang.

Beauty of Koto Gadang

Beauty of Koto Gadang

Rumah Gadang

Rumah Gadang

Rumah gadang of Koto Gadang

Rumah gadang of Koto Gadang

Sampai dipenginapan, saya istirahat sebentar sebelum check out. Karena akan kembali pada sore hari saya menitipkan barang kepada Ling. Saya masih ingin berjalan-jalan menikmati indahnya pesona kota Bukittinggi. Karena saat itu sudah memasuki waktu sholat Dzuhur, sayapun sholat dahulu di masjid yang berada didekat penginapan. Nuansa islami masih cukup terasa kental di kota ini. Ketika adzan berkumandang, pria dan wanita berbondong-bondong menuju masjid sehingga masjid dipenuhi oleh orang yang ingin sholat berjamaah.

Menghabiskan waktu sore ini, saya mengunjungi rumah Bung Hatta. Rumah yang merupakan jejak sejarah dari bapak proklamator ini masih terawat dengan baik. Seluruh barang yang pernah digunakan oleh Bung Hatta masih dengan sangat rapi terjaga dirumah tersebut. Seorang ibu yang merupakan penjaga dari rumah tersebut menjelaskan sejarah dari setiap sudut rumah tersebut. Setelah selesai, saya mengisi buku tamu dan tidak dikenakan harga untuk mengunjungi rumah Bung Hatta ini tapi pengunjung diminta sumbangan seikhlasnya untuk biaya perawatan rumah tersebut.

Ruang Tamu Rumah Bung Hatta

Ruang Tamu Rumah Bung Hatta

Sudut lain Rumah Bung Hatta

Sudut lain Rumah Bung Hatta

Tak terasa, sorepun menjelang. Saya kembali ke penginapan untuk mengambil tas yang saya titipkan. Selang berapa lama, travel yang membawa saya pulangpun datang menjemput. Sebelum pulang saya mengucapkan terima kasih kepada Ling yang sudah baik membantu saya selama berada di Kota Bukittinggi. Semoga kelak bisa kembali ke Kota ini…

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s