Terusir – Hamka

Siapa yang tidak kenal dengan HAMKA, seorang sastrawan besar yang pernah ada dan hampir seluruh karyanya menempati kasta tertinggi kesastraan di Indonesia.  Salah satu karyanya adalah novel berjudul Terusir.  Novel ini memang tidak seterkenal novel karangan sang Buya lainnya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli ataupun Dibawah Lindungan Ka’bah.  Namun novel ini mampu menyuguhkan kisah perjalanan cinta yang dibumbui dengan fitnah, pengorbanan, permusuhan dan air mata yang diracik dengan adat minang yang begitu kental oleh sang Buya.

terusirDialah Mariah, seorang perempuan biasa yang menikah dengan Azhar, lelaki yang berasal dari keluarga terpandang.  Perbedaan status diantara keduanya membuat mertua dan iparnya melakukan segala daya upaya untuk memisahkan mereka.

Sampai pada suatu ketika, Mariah difitnah telah berlaku serong.  Azhar yang panas hati tanpa mendengarkan penjelasan apapun dari Mariah, mengusir perempuan malang itu pada malam itu juga.  Dengan cacian dan makian dari suaminya Mariah pergi tanpa membawa apa-apa termasuk putranya yang masih kecil bernama Sofyan. Perempuan malang itu tak tahu harus kemana karena ia tidak memiliki sanak famili lagi.  Satu tempat yang ditujunya pada malam itu adalah rumah pak cik nya dikota medan.  Sementara waktu ia akan menumpang disana.  Itupun tak berlangsung lama karena istri pak cik nya tidak menyukainya.  Terusir kembalilah Mariah dari sana.

Berkali-kali Mariah menulis surat untuk Azhar, namun tidak pernah dibalas.  Selang beberapa waktu, Azhar dinasehati oleh sahabat karibnya yaitu Haji Abdul Halim yang baru pulang dari Mekah.  Tergeraklahnya harinya untuk mencari Mariah.  Namun sayang, Mariah yang telah menjadi Babu (pembantu rumah tangga) dikeluarga Van Oost, telah dibawa ke Jakarta oleh keluarga itu.

Tak lama berselang, majikan Mariah memutuskan untuk kembali ke Eropa tanpa membawa Mariah dan pembantu lainnya.  Disanalah penderitaan Mariah akan kembali bermula.  Selepas ditinggal majikannya, Mariah menikah dengan  Yasin, yang sama-sama bekerja dikeluarga Van Oost.  Ternyata Yasin menikahi Mariah hanya untuk menghabisi harta yang dimiliki Mariah.  Setelah harta tersebut habis untuk berjudi dan bermain perempuan, Mariah dicampakan begitu saja.  Kesulitan ekonomi yang dialaminya membuat Mariah gelap mata.  Ia tidak memiliki pilihan lain, sampai akhirnya ia masuk kedalam lembah nista pelacuran demi menyambung hidup.  “Neng Sitti” itulah nama lacurnya sekarang.

Azhar yang merasa menyesal, tidak menikah lagi sebagai bentuk penyesalannya terhadap Mariah.  Ia membesarkan putranya hingga menjadi orang orang yang berhasil dan menjadi seorang master (pengacara) di Jakarta.  Sampailah hal tersebut ketelinga Mariah, bahwa anaknya sekarang telah menjadi orang besar.

Sofyan yang sekarang telah menjadi seorang master, memadu kasih dengan Emi, seorang gadis priangan.  Namun cinta keduanya terhalang oleh Wirja, yang menyimpan dendam ke Sofyan karena lamarannya ditolak oleh Emi.  Dengan segala daya dan fitnah yang keji, Wirja berusaha untuk menjatuhkan Sofyan termasuk dengan bantuan “gadis malam” bernama Flora, namun rencana tersebut tidak berhasil.

Dirumah pelacuran, Wirja marah terhadap Flora atas ketidak berhasilannya menjatuhkan Sofyan.  Disanalah Neng Sitti mendengar percakapan keduanya.  Neng Sitti marah terhadap Wirja yang mencoba menjatuhkan Sofyan.  Wirja akhirnya mengetahui bahwa Neng Sitti adalah ibu kandung dari Sofyan, dan ia akan membocorkan hal tersebut.  Percek-cokan terjadi diantara Neng Sitti dan Wirja dan berakhir dengan terbunuhnya Wirja oleh Neng Sitti yang tidak ingin Sofyan hancur karena mengetahui bahwa ia adalah ibu kandungnya.  Neng Sitti akhirnya dipenjara karena kasus pembunuhan tersebut.

Cerita semakin klimaks saat Sofyan ditunjuk oleh Mahkamah Agung untuk membela Neng Sitti.  Dihari dimana Neng Sitti diadili, tiga tokoh utama dalam novel ini dipertemukan.  Hamka begitu pandai meramu pertemuan mereka secara dramatis.

Azhar yang akhirnya mengetahui bahwa yang dibela oleh anaknya adalah Mariah, istri yang dahulu diusirnya merasa kaget.  Ia tidak memberitahukan hal tersebut kepada Sofyan.  Ketika Sofyan meminta restu kepada Ayahnya untuk membela perempuan itu, dengan gemetar ia berkata :

Belalah perempuan itu dengan sehabis-habis dayamu, tumpahkanlah segenap kekuatan pikiran dan kepandaianmu dalam perkara ini”. (halamanan 98).  Dibagian inilah Hamka mampu membangun suasana sehingga pembaca terbawa alur cerita yang dramatis.

Apakah Sofyan berhasil membebaskan Neng Sitti dari jerat hukum? Dan apakah ia mengetahui bahwa perempuan malang yang dibelanya tersebut adalah ibu kandungnya sendiri? Lalu apakah Mariah memaafkan Azhar? Dan berakhir seperti apakah kisah Mariah. Semuanya bisa anda baca pada novel Terusir.  Yang jelas siapkan tissue karena akhir cerita yang sangat mengharu biru dan menyentuh.

Hamka memang begitu piawai memainkan emosi pembaca pada novel ini.  Penggunaan gaya bahasa melayu pada novel ini mampu menguatkan rasa “Sumatera” yang dibangun oleh sang maestro sastra ini.  Sajian latar ditahun 1930-an yang erat dengan masa penjajahan membuat novel ini semakin menarik untuk dibaca.

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s