Hanya Cerita

Pesona Kota Palu, Sulawesi Tengah

Setahun lebih blog ini tak pernah saya tengok.  Kesibukan dan rasa malas yang tidak bisa saya kalahkan membuat rasa rindu akan menulis selalu saja saya abaikan.  Namun hari ini, keinginan untuk kembali menulis tiba-tiba saja muncul.  Banyak sebenarnya kisah yang ingin saya bagi.  Dalam setahun ini saya mengalami banyak kejadian yang benar-banar membuat hidup saya semakin bersyukur atas apa yang saya punya.

Setelah setahun vakum, saya ingin berbagi tentang pengalaman saya ketika berada di kota Palu.  Mungkin ada teman-teman yang ingin berencana kesana dalam waktu dekat ini.  Semoga tulisan ini bisa menjadi referensi.

Indonesia itu sangat kaya.   Saya harus akui bahwa keindahan alam, budaya, tradisi dan juga bahasa di Indonesia memang tidak ada duanya.  Dari ujung barat hingga ujung timur memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri.  Kali ini, saya berkesempatan menginjakan kaki di tanah Sulawesi tepatnya di kota Palu, Sulawesi Tengah.  Sebenarnya kunjungan saya ke Palu ini dalam rangka dinas dari kantor, tapi toh tak ada salahnya sekalian menikmati keindahan kota ini.

Palu adalah kota yang unik.  Letaknya berada di teluk, sehingga kota ini dikelilingi dengan pegunungan dan laut disekitarnya.  Sepanjang mata memandang,  maka kita bisa melihat pegunungan dan laut secara bersamaan di kota ini.   Sebelum datang ke kota ini, saya sempat khawatir akan keamanan kota ini yang konon katanya tidak kondusif dan sering terjadi keributan.  Tapi setelah sampai, apa yang saya bayangkan tidak seperti yang saya dengar selama ini.

1Masyarakat di kota ini, hidup dengan rukun dan bertoleransi cukup baik.  Warga muslim dan non muslim dapat hidup secara berdampingan serta saling menghormati.  Pertama kali menginjakan kaki dikota ini, saya langsung terpesona dengan keindahan alam kota ini.  Hamparan laut yang berwarna biru sudah menyambut kedatangan saya serta barisan pegunungan tampak seperti perisai yang memagari kota ini.

Hal yang pasti tersuguh dikota ini adalah lautnya.  Laut di Indonesia timur memang jawara.  Degradasi warnanya membuat saya  berdecak kagum atas keindahan pesona sang pencipta.

Pantai Talise adalah destinasi wajib yang harus dikunjungi karena lokasinya yang tepat berada di jantung kota Palu.  Pantainya landai dan ombak yang tidak terlalu besar membuat pantai Talise menjadi wisata rakyat yang mudah dijangkau.  Dipantai Talise terdapat Anjungan Nusantara yang merupakan spot terbaik untuk berfoto. Dipantai ini akan kita temui banyak pedagang yang berjualan, walaupun demikian, kebersihan disekitar pantai tetap terjaga.  Jika hari minggu, maka akan banyak komunitas yang berkumpul disana dan kalau beruntung maka kita bisa melihat lomba pacuan kuda di pantai ini.

Dari pantai talise, kita juga bisa melihat landmark nya kota Palu yaitu Jembatan Ponulele atau yang lebih dikenal dengan jembatan Kuning.  Jembatan ini menghubungkan Palu Barat dan Palu Timur.  Konon katanya jembatan ini adalah jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga didunia setelah Japang dan Perancis.  Disekitaran pantai Talise juga terdapat jembatan merah yang terbuat dari kayu.  Saat saya kesana, jembatan ini sedang dalam proses pengecatan ulang.  Warnanya sudah tidak merah lagi tapi sudah berwarna warni seperti pelangi.

29

Tak jauh dari Jembatan kuning, kita bisa menjumpai salah satu masjid yang cukup unik yaitu masjid apung.  Letak masjid ini yang agak menjorok ke laut membuatnya seolah-olah terapung.  Masjidnya tidak terlalu besar, namun memiliki desain interior yang menarik.  Jika kita masuk kedalamnya maka kita akan merasakan hembusan angin laut yang cukup kencang.

658

Bergeser sedikit dari kota Palu, tepatnya di Donggala.  Kita bisa menjumpai banyak tempat wisata.  Dan Pusat laut adalah destinasi yang wajib untuk dikunjungi.  Pusat laut adalah cekungan berupa lingkaran besar yang letaknya cukup jauh dari bibir pantai.  Namun air yang ada disana berasal dari laut yang berada disekitarnya.  Masyarakat disana percaya bahwa terdapat lubang yang menghubungkan antara pusat laut dengan laut yang berada disekitarnya.  Air yang ada di pusta laut sangat jernih dan hijau.  Buat yang suka memacu andrenalin, melompat ke pusat laut akan memberikan tantangan tersendiri.  Dipusat laut ini, banyak anak-anak kecil yang berenang. Mereka juga pandai menyelam, terkadang pengunjung melemparkan uang koin kedalam pusat laut lalu anak-anak itu berebut untuk mengambilnya.  Pengunjung juga dapat berenang dengan bebas di pusat laut.

3

11

Tak lengkap rasanya jika berkunjung kesuatu daerah tanpa menikmati kuliner yang khas dari daerah tersebut.  Kaledo adalah makanan khas Sulawesi Tengah yang wajib dicoba jika berkunjung kesana.  Kaledo merupakan singkatan dari kaki lembu donggala.  Makanan ini sejenis soup kaki.  Makanan ini biasa dimakan dengan singkong rebus.

10

Makanan lain yang wajib dicoba ketika berada di Palu adalah dange.  Dange adalah sejenis kue tradisional yang terbuat dari sagu yang dipanggang pada wajan kecil lalu diberi gula merah atau daging ikan.  Rasanya enak dan gurih.  Saat sore hari akan banyak kita jumpai penjual dange yang menjajakan dagangannya di dekat masjid terapung.

Demikianlah catatan perjalanan saya selama berada di kota palu. Masih banyak tempat-tempat eksotis lainnya yang belum sempat saya kunjungi.  Palu menyimpan sejuta pesona pariwisata yang masih belum terjamah.  Semoga saya bisa kesana lagi dilain waktu.  See you Palu….

7

Advertisements

Duhai Anak Ku

Duhai anakku sayang

Maaf tidak bisa memelukmu, tidak bisa mendekapmu, tidak bisa bersama denganmu mengukir cerita, tak bisa berbagi suka dan duka, tak bisa menemanimu meraih asa, tak bisa beriringan bersama meraih mimpi.  Aku biarkan engkau sendiri mengejar matahari.  Bukan aku tak sayang padamu wahai lelaki kecilku.  Jauh didalam hati kecilku engkau sudah terpatri dan tidak mungkin akan terganti.  Meski nanti musim berganti, kemarau menjadi hujan kemudian menjadi kemarau lagi.  Waktu terus berlalu, siang berganti malam lalu menjadi siang kembali. Tempatmu akan selalu tetap dihatiku dan selalu akan berada disitu.

Wahai malaikat kecilku.

Sedih rasa tak terperi meninggalkan engkau dalam kondisi ini.  Tubuhmu masih begitu mungil, kulitmu saja masih merah, matamu pun masih belum bisa menyapa dunia dengan sempurna.  Dan dengan sangat berat, engkau harus aku tinggalkan. Tak tahu kapan akan bisa bersua denganmu lagi atau mungkin ini adalah pertemuan terakhir bagi kita.

Duhai anakku sayang

Nanti ketika engkau sudah bisa berpijak dibumi, ketika langkah kecilmu akan menjadi sebuah langkah besar.  Kau harus mampu untuk menghadapi dunia seorang diri dan menjadi tegarlah anakku.  Hadapi semua aral dengan perkasa.  Dan ketika kau sudah mampu untuk menaklukan dunia,  mungkin saat itu amarah telah berkobar dihatimu menyulut kebencian terhadapku yang telah dengan teganya meninggalkanmu.  Tapi yakinlah bahwa dengan ikhlas aku terima semua kebencianmu.

Lelaki kecilku

Aku tahu, aku terlalu hina dimatamu.  Aku hanya seorang pecundang yang telah meninggalkanmu dan tidak sedikitpun membagi kasih sayang kepadamu.  Tapi aku tidak perduli dengan sikapmu nanti terhadapku, biarlah itu urusan nanti.  Karena kau sendiri akan mengerti mengapa aku melakukan semua ini.

Oh anakku andai kau tahu betapa aku menyayangimu dan ingin selalu berada disampingmu tetapi aku harus melangkah dan terus berkelana. Berjalan jauh sekali, melangkah kemana seharusnya aku ada.  Bukan dirumah kita tapi dirumah yang seharusnya aku berada.

Surat Buat Aku

Semesta, 11 Februari 2014

Untuk Aku…..

Ingatkah aku, dahulu aku hanya jerit tangis.  Mampukah aku merasakan lafadz adzan ayah yang berdendang indah ditelinga mungilku.  Bisakah aku merasakan tetes air mata ibu yang dengan susah payah melahirkan aku.  Satu-satunya yang masih bisa aku rasakan sampai saat ini adalah dekap hangat dan kebahagiaan serta doa pengharapan dari kedua orang tuaku saat aku pertama kali menyapa dunia.

Aku……

Tak terasa jauh sudah langkah yang telah ditempuh.  Meninggalkan jejak demi jejak dalam setiap langkah hidup, entah itu baik atau buruk.  Melewati kisah demi kisah yang berhembus kemudian  berlalu tersapu hujan.  Paling tidak aku sudah merasakan kerasnya hidup.  Merasakan arti sebuah perjuangan, jatuh tersungkur dalam kegagalan.  Setidaknya semua perjalanan tersebut telah menguatkan aku bukan?    Mengajarkan  proses menjadi manusia yang seutuhnya.  Menjadi manusia yang mencoba untuk menerima apa yang alam sudah takdirkan untuk aku jalani.  Aku hanya perlu menjalani tanpa perlu untuk mengeluh.

Aku…..

Waktu terus berputar dan tidak akan berhenti walau kita memintanya untuk sejenak saja melepas penat.  Sekarang kita kembali pada titik yang sama. Titik dimana aku dilahirkan.  Semuanya masih sama, yang berbeda hanyalah aku dan keadaan sekelilingku.  Tak ada perayaan karena memang aku tidak menyukai itu.  Aku hanya butuh waktu sejenak untuk merenung. Memandang kembali jejak langkah yang pernah kutorehkan.  Dan sekarang aku berdiam diri pada suatu titik, berdiri menatap dunia, memandang luasnya semesta.  Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa dunia semakin menua.  Semoga pertambahan usiaku hanya akan menjadi penambah kebaikan saja. Amiin.

Sebuah Persepsi

Setiap manusia memiliki persepsi tersendiri dalam memandang suatu hal ataupun kejadian.  Postingan saya berikut ini, silahkan teman-teman terjemahkan sendiri tergantung dari sudut pandang mana anda melihatnya.

Terdapat percakapan antara seorang ibu dan anaknya di sebuah taman.

Ibu : Nduk, sudah selesai belum?

Anak : Iya bu, sebentar lagi.

Selang beberapa waktu, si ibu kembali bertanya

Ibu : Nduk, sudah belum ?

Anak : Sebentar lagi ya bu.

Ibu : Ya sudah ibu tunggu.

Dengan sabar dan penuh senyum, ibu tersebut terus menunggu sampai akhirnya setelah lama menunggu ia berdiri dan bertanya kembali ke anaknya dengan lembut.

Ibu : sudah selesai belum nduk?

Anak : *hanya terdiam

Ibu : Sudah ya nduk, kamu sudah cukup lama bermain-main.

Dan tiba-tiba suasana menjadi senyap.

Bertanya Pada Langit

Pagi ini kulihat langit tak lagi biru, mengapa sejak kemarin yang ada hanya pekat.  Apa mendung memang tak ingin pergi..?

Apa memang hanya gelap dan dingin yang ingin berkawan denganku?

Perlahan aku sadari, langitku sudah pergi. Meninggalkan sejuta mimpi yang tak bertepi.  Mimpi yang terbang bersama hembusan bayu. Haruskah aku mengejar biru langitku…?  Atau aku harus rela untuk berbagi langit dengan yang lain…?

Kepada siapa aku harus berbagi ? bukankah selama ini hanya langit tempatku mengadu.

Apa matahari mau mendengar keluhku?

Apa bulan mau menghapus peluhku?

Apa bintang mau meneduhkan jiwaku?

Apa awan mau bercerita tentang luasnya jagat raya kepadaku?

Kepada siapa lagi aku harus bercerita tentang asa dan rasa?

Bingar  orang disekitarku begitu ramai, tapi yang kurasa hanya senyap.  Sekali lagi aku menoleh keatas,  berharap mendung segera beranjak, berganti dengan hangatnya biru langitku.  Sampai akhirnya kusadari ternyata memang aku harus beralih menuju bumi yang lain karena memang tak ada langit yang merupakan milik ku sendiri.