Palembang

Aku Lelah Berkelana

Langkah dan terus melangkah menyusuri jalanan disepanjang dunia.  Melihat cakrawala yang membentang, bertualang menantang dunia.  Menyusuri jalan yang tak pernah kulalui.  Ada rasa gembira karena bertemu dengan dunia baru.  Menyaksikan betapa beragamnya insan yang ada.  Bertualang dari satu dunia menuju dunia yang lain, seakan tak pernah lelah untuk mengembara.  Berjalan menuju ujung langit, seakan ingin menggapainya tapi langit tak pernah dapat untuk digapai.

Hari merangkak menuju senja.  Rasanya kakiku sudah letih untuk melangkah.  Aku lelah untuk berkelana.  Tak elok rasanya untuk terus mengembara.  Mungkin sudah saatnya aku mencari persinggahan untuk melepas penat, bukan untuk sejenak tapi untuk selamanya.

Advertisements

Pulau Kemaro – Jejak Budaya Tionghoa di Palembang

Kota Palembang memang layak menjadi salah satu destinasi wisata yang patut untuk dikunjungi.  Kota ini merupakan saksi atas berjayanya kerajaan Sriwijaya.  Kemashuran kerajaan ini mengundang para pedagang dari Arab dan Cina untuk melakukan transaksi perdagangan dengan kerajaan Sriwijaya.  Tidak heran memang, kebudayaan lokal Palembang sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya Arab dan Cina.

Palembang merupakan kota terbesar kedua di pulau Sumatera.  Kota ini patut dimasukan dalam daftar kota yang harus untuk dikunjungi.  Bagitu banyak pesona yang ditawarkan oleh kota ini kepada wisatawan yang datang.  Berwisata ke Palembang, tidak lepas dari wisata kulinernya yang mampu memanjakan lidah dengan berbagai jenis kuliner, karena memang dikota ini tersedia beragam jenis kuliner lokal yang hanya bisa ditemui di Palembang.  Sebut saja empek-empek.  Siapa yang tidak tahu dengan kuliner satu ini.   Ada juga model, tekwan, laksa, burgo, celimpungan, nasi minyak, pindang tulang, pindang patin, berengkes tempoyak, kue delapan jam, kue srikaya.  Tidak akan ada habisnya bila kita berbicara mengenai kuliner di kota yang terkenal dengan Jembatan amperanya.

Tidak hanya memanjakan lidah dengan kulinernya,  berwisata ke Palembang erat kaitannya dengan wisata budaya.  Berbagai pilihan objek wisata bisa wisatawan kunjungi dikota ini.  Salah satunya adalah pulau kemaro.

Pulau kemaro adalah sebuah dataran yang terletak di tengah sungai musi.  Akses menuju kesana tidaklah sulit.  Di dermaga yang berada dibawah jembatan ampera (Benteng Kuto Besak), banyak perahu yang disewakan untuk melayani wisatawan yang ingin berkunjung kesana.  Pulau kemaro merupakan salah satu objek wisata yang wajib untuk disinggahi.  Akan menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung karena untuk menuju kesana wisatawan harus naik perahu dan membelah sungai musi.  Sepanjang perjalanan akan disuguhi dengan rumah-rumah terapung dan kehidupan masyarakat Palembang yang tinggal disepanjang sungai musi.

20130921_163939

20130921_165241Sesampai di pulau kemaro, nuansa pecinaan terlihat jelas dari bangunan yang ada.  Dipulau ini  memang terdapat kelenteng yang masih digunakan, khususnya ketika cap go meh, sebagian besar warga Palembang keturunan tionghoa akan sembahyang di kelenteng ini.  Keleteng yang terletak di tengah pulau dan berdiri gagah merupakan bukti bahwa budaya tionghoa tumbuh dan berkembang di Palembang.

IMG-20130203-01145

IMG-20130203-01174Pulau kemaro juga identik dengan legenda yang berkembang dan sampai saat ini masih dipercayai oleh masyarakat.  Alkisah dahulu kala terdapat puteri raja bernama Siti Fatimah yang disunting oleh bangsawan tionghoa bernama Tan Bun An.  Suatu ketika, Siti Fatimah diajak ke negeri Tiongkok oleh Tan Bun An untuk bertemu dengan keluarganya yang berada disana.  Sepulangnya ke Palembang, mereka dihadiahi tujuh buah guci oleh orang tua Tan Bun An.  Ketika kapal yang mereka tumpangi sampai diperairan sungai musi, Tan Bun An membuka hadiah yang diberikan oleh orang tuanya.  Dia sangat kaget karena mengetahui bahwa di guci tersebut hanya berisi sayur-sayuran yang sudah membusuk.  Tanpa berfikir panjang lagi, Tan Bun An membuang satu persatu guci tersebut ke sungai musi.  Sampai pada guci yang ketujuh, ternyata pecah dan terdapat emas yang berada didalamnya.  Emas sengaja ditutupi dengan sayuran untuk menghindari dari ancaman bajak laut.   Mengetahui bahwa hadiah dari orang tuanya adalah emas, Tan Bun An langsung menceburkan dirinya ke sungai untuk mengambil guci-guci tersebut.  Melihat suaminya yang tidak muncul ke permukaan, Siti Fatimah lalu ikut menceburkan dirinya ke sungai.  Namun naas, Keduanya tidak muncul kepermukaan.  Oleh karena itu, masyarakat sekitar masih sering datang ke pulau kemaro untuk mengenang suami istri tersebut.

IMG-20130203-01150

IMG-20130203-01151Selain adanya kelenteng yang berdiri ditengah pulau,  dipulau tersebut juga terdapat pohon Cinta, yang konon katanya kalau sepasang muda mudi menuliskan namanya disana, akan berakhir kepelaminan.  Selain itu didekat kelenteng juga terdapat patung dewa yang sedang memegang emas batangan.  Saya tidak tahu dewa apa itu.  Dan beberapa bangunan bernuansa tionghoa juga terdapat disekitar kelenteng.

IMG-20130203-01157Tidak memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa mengelilingi pulau kemaro.  Pulau yang merupakan salah satu destinasi wisata andalan kota Palembang ini bisa dikunjungi setiap saat.  Saran saya, baiknya ketika kembali dari pulau kemarau menuju dermaga lebih baik pada sore hari.  Agar bisa melihat pemandangan indah kehidupan masyarakat disepanjang sungai dikala sore.

20130921_180835

20130921_181245

Nasi Minyak – Kuliner Khas Palembang yang Lekat Dengan Nilai Budaya

Kalau ditanya mengenai kuliner khas Palembang, hal pertama yang mungkin terlintas dipikiran kita adalah empek-empek.  Tidak salah memang, karena empek-empek sudah sangat terkenal sebagai makanan khas dari Palembang.   Oleh karena itu, Palembang dijuluki sebagai kota empek-empek.  Kalau bicara mengenai kuliner di Palembang memang tidak akan ada habisnya.  Kota ini menyimpan banyak kuliner khas daerah yang memang hanya bisa kita jumpai di bumi Sriwijaya ini.

Selain empek-empek, kuliner wajib yang harus dicoba kalau berkunjung ke kota Palembang adalah model, tekwan, mie celor, celimpungan, laksa, burgo, kue delapan jam, pindang patin, berengkes tempoyak,  es kacang merah dan masih banyak lagi kuliner khas Palembang yang wajib dicoba.

Palembang memang kaya akan budaya.  Perpaduan budaya lokal dengan kebudayaan Cina dan kebudayaan Arab yang dibawa oleh pedagang dari Cina dan Arab ketika zaman kerajaan Sriwijaya, terlihat jelas dari peninggalan budaya yang ada.  Akulturasi budaya tersebut juga dapat dilihat dari makanan khas Palembang, yang kalau diperhatikan hampir memiliki kesamaan dengan makanan dari Cina ataupun Arab.

Kali ini saya akan mencoba untuk membahas mengenai nasi minyak.  Nasi minyak merupakan kuliner Palembang yang sarat dengan nilai budaya.  Sepintas nasi minyak hampir sama dengan nasi kuning karena memang warnanya  yang kuning pekat.  Yang membedakan adalah rasanya.  Ada rasa khas dari nasi minyak yang berbeda bila dibandingkan dengan nasi kuning.  Rasa tersebut berasal dari minyak samin karena ketika memasak nasi minyak di campur dengan minyak samin sebagai penguat rasa. Terkadang nasi minyak juga dicampur dengan kismis untuk menambah kelezatan rasanya.

Berbeda dengan nasi kebuli yang dagingnya dicampur langsung, lauk untuk nasi minyak disajikan secara terpisah.  Jadi untuk menikmati nasi minyak bisa disantap dengan daging malbi/rendang, ayam goreng/bakar, pergedel, tahu, tempe maupun sambal.

Nasi Minyak- Sumber Foto : commons wikimedia.org

Nasi Minyak- Sumber Foto : commons wikimedia.org

Memasak nasi minyak biasanya menggunakan kuali besar dan diaduk dengan pengaduk yang terbuat dari kayu yang panjang.  Karena memasaknya dengan bumbu yang khas oleh karena itu tidak semua orang bisa memasak nasi minyak dengan rasa yang pas.

Di Palembang sendiri, hanya beberapa rumah makan yang menyediakan nasi minyak.  Jadi memang agak sedikit sulit untuk mendapatkan nasi minyak.  Kalaupun tersedia, tidak dalam jumlah yang banyak.  Jadi jangan sampai kehabisan ya.

Satu hal lagi yang unik dari nasi minyak.  Ini seperti sudah menjadi tradisi di wilayah Palembang ataupun wilayah lain di Sumatera Selatan, setiap ada acara seperti pernikahan, ulang tahun ataupun sunatan, menu nasi minyak pasti terhidang dan selalu menjadi pilihan utama para tamu.  Rasanya ada yang kurang kalau tidak menyediakan nasi minyak dalam acara yang diselenggarakan.  Nasi minyak seperti sudah menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Palembang.

Jadi buat kalian yang sedang berkunjung ke Pelembang, nasi minyak merupakan salah satu kuliner yang wajib untuk dicoba.

Tulisan ini, diikut sertakan dalam lomba blog “Jelajah Kuliner Unik Nusantara”

screen grab

grab twiter1